Buku Lifespan karya John W. Santrock : 8 Cara Memperlambat Proses Penuaan

PenulisKreatif.com – Buku Lifespan karya John W Santrock. Buku ini mengupas penelitian berbasis genetika dan memunculkan teori yang membahas tentang penuaan. Penuaan memang proses alami yang biasa terjadi pada setiap manusia. Tidak heran jika penuaan bisa membuat seorang individu memalukan, tidak nyaman, dan menyakitkan.

Buku ini membahas alasan mengapa manusia mengalami penuaan, dan bagaimana cara memperlambat proses penuaan. Adanya riset berbasis laboratorium, akan menguak nutrisi yang bisa kita konsumsi yang mendorong kita menerapkan pola hidup baik.

Buku ini diperuntukkan bagi kalangan muda yang tidak ingin cepat mengalami penuaan, orang tua yang ingin merasakan masa muda, serta siapapun yang ingin hidup lebih sehat.

8 Cara Memperlambat Proses Penuaan menurut  John W. Santrock

  1. Penuaan memang tak terhindarkan akan tetapi bisa diobati

Banyak penyakit kronis yang membawa manusia pada kematian. Penyakit tersebut meliputi pneumonia, influenza, dan gastrointestinal. Sebanyak 10% warga Amerika terancam mengalami kematian karena penyakit-penyakit tersebut.

Banyak orang yang mengira, penuaan merupakan sebuah penyakit yang sama dengan penyakit diatas. Penuaan akan menyebabkan terjadinya kegagalan fungsi organ, demensia, penurunan kepadatan tulang, dan gejala lainnya.

Selain itu, penuaan juga mengakibatkan proses penyembuhan luka semakin lama dan rentan terinfeksi mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan virus. Perlahan-lahan juga akan berdampak pada fungsi otak.

Menurut ahli genetika, penuaan merupakan salah satu penyakit dan penyakit ini bisa disembuhkan. Hal inilah yang nantinya bisa memperpanjang umur kita.

Cara mengatasinya yaitu mencari sumber atau akar permasalahannya. Seperti halnya pengobatan pada kanker. Penyembuhan kanker pada tahun 1960 hanya difokuskan pada gejala pasien. Hal ini yang membuat kanker diobati dengan pengangkatan organ yang terinfeksi kanker yang berdampak pada sel sehat disekitarnya.

Lalu, pada tahun 1970 peneliti biologi molekular menemukan onkogen. Onkogen merupakan gen spesifik yang mengkode sel penyebab kanker karena adanya suatu mutasi. Dengan menggunakan teknik onkogen sebagai sel target, dianggap lebih efektif karena meminimalisir terjadinya cedera akibat pengobatan dan meningkatkan keselamatan pasien.

Hal serupa juga bisa diaplikasikan pada sel yang menjadi pemicu penuaan. Akan tetapi sampai saat ini masih sedikit yang mengetahui. Sehingga adanya penelitian berkelanjutan oleh para ilmuan akan membawa terobosan baru untuk menemukan cara pengendalian penuaan. Inilah point penting pertama Buku Lifespan karya John W Santrock.

 

  1. Gen manusia diciptakan untuk mempunyai umur panjang

Terdapat polip yang hidup di air tawar dari jenis Hydra vulgaris. Mikroorganisme ini mampu melakukan evolusi biologis untuk melawan penuaan. Hal inilah yang menyebabkan Hydra vulgaris disebut dengan makhluk abadi.

Penuaan pada organisme, bisa terjadi pada saat sel berhenti untuk membelah dan menumpuk pada tubuh.

Bisakah manusia menerapkan hal yang sama? Penelitian genetika menunjukkan bahwa manusia mampu mengaplikasikan hal tersebut.

Pada dasarnya, organisme akan mengalami suatu siklus gen yang mampu memicu reaksi gen satu dengan gen lainnya. Pemahaman akan reaksi ini akan membawa kita melihat kebelakang dengan mengamati kehidupan awal dan era sup purba. Ilmuwan membagi gen manusia pada saat itu menjadi dua, yakni gen A dan gen B.

Gen A merupakan gen yang berperan untuk menghentikan reproduksi sel, sebagai hasil respon lingkungan yang tidak menguntungkan. Lain halnya dengan Gen B, yang bertugas untuk memicu reproduksi sel setelah proses pemberhentian.

Pada saat kondisi lingkungan membaik, Gen B akan menyelimuti Gen A dengan protein, lalu mematikannya. Selanjutnya mulailah proses reproduksi sel dalam tubuh.

Selain mematikan Gen A, Gen B juga berperan dalam memperbaiki DNA yang telah rusak dengan cara melakukan replikasi DNA. DNA yang telah direplikasi akan mampu memicu adanya reproduksi sel. Sel yang telah mengalami reproduksi tidak akan mampu untuk menua. Inilah point penting kedua Buku Lifespan karya John W Santrock.

 

  1. Teori informasi penuaan menunjukkan penuaan terpicu karena informasi seluler yang hilang

Penulis menjelaskan, Teori Informasi Penuaan terjadi karena hilangnya informasi dalam sel. Sel yang kehilangan informasi ini diakibatkan proses perbaikan atau regenerasi sel, yang terjadi secara lambat atau tidak berjalan dengan sempurna.

Informasi seluler ini pada dasarnya terdapat didalam DNA manusia. Hal ini dikarenakan di dalam DNA terdapat organ yang disebut dengan epigenome. Epigenome adalah bagian yang mengkoordinasi terjadinya pengaturan dalam DNA. Bagian ini  membuahkan produk yang disebut dengan ekspresi DNA.

Epigenome juga biasa disebut dengan gen penanda. Gen penanda ini juga penting karena merupakan salah satu yang menyebabkan hilang atau tidaknya suatu informasi sel. Gen penanda mampu memberikan label kimia.

Gen penanda akan memberikan sinyal, sehingga akan terjadi kecocokan dan kesamaan gen pada organ yang menjadikan sel tersebut sebagai bahan dasar penyusunnya. Contohnya sel ginjal akan berkumpul di ginjal, bukan di otak.

Selain gen penanda, ada pula gen sirtuin yang memainkan peran penting dalam proses regenerasi DNA. Selain regenerasi DNA, gen ini juga mampu meningkatkan usia kita dan meningkatkan vitalitas kita.

Gen ini mampu mematikan dan menghidupkan gen lain, karena adanya respon darurat seperti penyakit dan terjadinya pembengkaan. Sirtuin akan terus berkeliling dalam sel untuk melakukan penjagaan dan melakukan perbaikan, agar fungsi sel tetap terus berfungsi.

Gen anti penuaan seperti sirtuin, sangat dibutuhkan untuk melawan terjadinya penuaan. Akan tetapi dampak yang terjadi jika gen sirkuin tidak mampu berkerja sebagaimana mestinya, dia juga bisa menjadi pemicu penuaan. Oleh karenanya, Sirtuin selalu melakukan imobilisasi dalam sel. Teori-teori ini adalah salah satu cara yang ditemukan oleh para ilmuwan.

 

  1. Kita dapat membantu gen yang memicu umur panjang untuk melawan terjadinya penuaan

Terdapat tiga ilmuwan yang berhasil mengidentifikasi area yang penduduknya panjang umur dan lebih sehat, yang dikenal sebagai Blue Zone. Ilmuwan tersebut adalah Dr. Michel Poulain, Buettner, dan Gianni Pes. Blue Zone yang mereka cetuskan membahas tentang rahasia para penduduk yang telah berusia 90 hingga seratus tahun masih tetap aktif. Lalu, apa saja rahasianya?

  • Penduduk Blue Zone mengkonsumsi protein nabati

Mayoritas penduduk di Blue Zone mengkonsumsi protein yang berasal dari tumbuhan. Hal ini dikarenakan protein dari tumbuhan atau protein nabati mengandung asam amino yang cukup untuk memelihara fungsi tubuh secara normal. Selain itu, protein nabati juga mampu membantu menekan stress yang bisa mengganggu fungsi replikasi sel.

Lain halnya dengan konsumsi protein hewani. Hewan akan menyumbangkan asupan protein yang besar dalam tubuh. Kelebihan protein tersebut di dalam tubuh akan membuat terhentinya fungsi tubuh. Hal ini mengakibatkan proses regenerasi DNA dan sel akan terhenti.

  • Membatasi makan dengan puasa.

Puasa merupakan salah satu cara yang sederhana untuk mobilisasi gen-gen umur panjang. Peneliti yang berasal dari Universitas Cornell, menunjukkan bahwa seekor tikus yang dibatasi pemberian makannya mampu bertahan hidup lebih lama.

Penelitian lain tahun 2011 di Universitas Yeshiva menunjukkan bahwa, puasa yang dilakukan selama lima hari hingga satu bulan lebih bisa memberikan efek jangka panjang bagi tubuh manusia. Hal ini dibuktikan dengan pengakuan para partisipan riset tersebut, yang mengaku bahwa dengan puasa selama tiga bulan kadar hormone IGF-1 atau Insulin Growth Factor 1 cenderung menurun.

Kadar IGF 1 yang tinggi di dalam tubuh manusia bisa meningkatkan resiko penuaan. Hal ini didukung oleh riset seorang ahli genetika bernama Nir Barzilai. Nir Barzilai mengemukakan bahwa perempuan yang mampu bertahan hidup hingga usianya mencapai 100 tahun mempunyai nilai IGF 1 yang relative rendah. Inilah point penting keemmpat Buku Lifespan karya John W Santrock.

Review Buku Lifespan karya John W. Santrock

  1. Obat penuaan ada disekitar kita

Para ilmuwan menemukan bahwa obat dari penuaan bisa dieksplor dari alam. Baik yang berasal dari tumbuhan maupun pada bakteri, yang biasa hidup di dalam tanah.

Obat potensial yang telah ditemukan bernama Rapamycin, yang mengandung senyawa antijamur. Rapamycin diisolasi dari tanah di Rapa Nui, Chili atau yang biasa dikenal dengan Pulau Paskah.

Pada awal penerapannya, Rapamycin digunakan sebagai obat agar tubuh bisa menerima organ baru yang telah ditransplantasi. Kemudian seiring berjalannya waktu, para ilmuwan mengembangkannya hingga bisa menjadi potensi obat untuk menghambat proses penuaan.

Riset yang menunjukkan potensi Rapamycin sebagai obat pencegah penuaan telah banyak dilakukan pada hewan coba. Hewan coba pertama yakni lalat buah yang diberikan Rapamycin, mampu hidup lima persen lebih lama dari fase hidup normalnya.

Hewan coba kedua yaitu tikus. Tikus yang diberikan dosis Rapamycin bisa bertahan hidup 9 hingga 14 persen lebih lama. Mengapa bisa demikian?

Hal ini dikarenakan Rapamycin mampu memicu gen mTOR untuk selalu melakukan regenerasi. mTOR yang ada di dalam sel tubuh akan mendorong proses pertumbuhan dan perkembangan sel.

Layaknya sirtuins, seiring bertambahnya hari, mTOR akan berhenti melakukan pembelahan. Adanya Rapamycin inilah yang akan memicu gen mTOR untuk selalu aktif melakukan pembelahan.

Selain Rapamycin, ada juga metformin. Metformin mampu mengaktifkan AMPK yang merupakan enzim di dalam mitokondria. AMPK akan merangsang mitokondria untuk memproduksi energi yang lebih banyak. Energi ini yang nantinya akan digunakan sel untuk regenerasi.

Penelitian lain mengungkapkan bahwa metformin mampu menghambat pertumbuhan sel kanker dan penyakit kronis lainnya. Metformin mampu mengurangi demensia pada orang tua sebesar 4%,  penyakit jantung 19%, sindrom karena faktor usia seperti lemah, penurunan berat badan, dan mudah lelah sebanyak 24%.

Masih ada banyak obat yang bisa digunakan untuk mengobati penuaan. Obat-obat tersebut sedang dalam proses pengembangan, dan akan diedarkan untuk mencegah penuaan pada manusia. Inilah point penting kelima Buku Lifespan karya John W Santrock.

 

  1. Singkirkan sel zombie untuk melawan proses penuaan

Zombie di dalam film, didefinisikan sebagai manusia yang hidup kembali setelah mati, lalu bisa mengakibatkan orang lain menjadi sepertinya jika terinfeksi lewat gigitan. Hal ini juga bisa terjadi pada sel tubuh kita.

Seiring waktu berjalan, semua sel yang ada di dalam tubuh bisa menua, yang mengakibatkan kerusakan pada DNA. DNA yang telah rusak akan kehilangan keampuan dalam mengirimkan signal yang berguna untuk mengkode proses replikasi.

Sel-sel yang telah tua tersebut lalu menumpuk pada tubuh manusia. Sel-sel tersebut memang tidak mampu berfungsi secara normal, akan tetapi mereka tidak sepenuhnya mati.

Sel tua ini masih mampu mengirimkan sinyal yang bisa membuat sel sehat lainnya berubah menjadi sel tua, sehingga proses penuaan sel tak bisa dikendalikan. Inilah alasan mengapa disebut dengan sel zombie.

Sel zombie mampu melepaskan sitokin. Sitokin merupakan protein yang mengakibatkan peradangan pada sel lain. Sehingga tidak heran semakin banyak sitokin yang dilepas, makin cepat seseorang menua dan makin banyak penyakit kronis yang akan datang.

DNA pada manusia bisa rusak, salah satunya karena adanya pemendekan telomer. Telomer adalah pembungkus ujung DNA pada sel. Hayfilc yang meneliti tentang ini mengungkapkan, adanya pembelahan akan membuat telomer semakin pendek yang akan memicu terbukanya untaian DNA.

Terbukanya rantai DNA ini akan membuat sel berusaha menggabungkannya kembali. Akan tetapi, penggabungan ini akan memicu dua hal. Pertama  terjadinya sel upnormal yang bisa tumbuh menjadi sel kanker, dan kedua munculnya epigenome.

Epigenome akan mampu memberi kode sinyal pada sirtuins untuk tidak membuka sel. Hal ini akan membuat penumpukan sel zombie pada tubuh semakin banyak.

Sehingga ada solusi alternatif yang bisa dilakukan yakni dengan menggunakan Senolitik. Senolitik merupakan obat yang mampu memberhentikan pertumbuhan dan perkembangan sel tua.

Penelitian di Mayo Clinic menunjukkan bahwa, senolitik dalam bentuk quercetin dan dasanitip yang diinjeksi pada tikus memberikan hasil signifikan. Tikus-tikus tersebut mengalami peningkatan usia yang lebih panjang dibandingkan dengan lainnya. Quercetin sendiri bisa ditemukan di capar, bawang merah, dan kangkung. Sedangkan dasanitib ditemukan dalam obat kemoterapi. Inilah point penting keenam Buku Lifespan karya John W Santrock.

 

  1. Tombol reset penuaan manusia

Apakah kamu tahu Domba Dolly? Domba Dolly adalah satu hewan hasil cloning yang sukses dilakukan oleh para ilmuan. Proses cloning domba dolly ini menggunakan sel domba indukan yang berumur tua. Dari sel tua ini nantinya akan beregenerasi menjadi sel muda.

Adanya hal ini membuat para ilmuwan berpikir, jika sel tua mengandung DNA tua yang masih bisa melakukan replikasi, maka apakah kode DNA kita otomatis bisa di reset?

Jawabannya bisa.

Hal ini dikarenakan penuaan pada seorang manusia bisa terjadi, karena terdapat sebuah informasi yang hilang di dalam sel. Berkat adanya cloning inilah ilmuwan mampu menemukan sebuah kunci untuk membuka informasi tersebut yang ditemukan selain di DNA. Salah satu ilmuwan yang berperan yakni Shinya Yamanaka.

Shinya Yamanaka mencoba mengambil sampel yang berasal dari empat gen. Masing-masing gen tersebut mempunyai sel induk atau sel muda yang belum mempunyai fungsi layaknya epigenome. Keempat gen ini biasa disebut dengan faktor Yamanaka.

Faktor Yamanaka mampu di riset untuk menjalankan ulang berbagai macam fungsi tubuh. Hal ini juga telah dibuktikan oleh peneliti Harvard yang mengungkapkan adanya dampak positif gen Yamanaka pada hewan coba.

Gen Yamanaka juga bisa diaplikasikan pada manusia. Pada usia 30 tahun, seseorang bisa disuntikkan sebuah virus yang membawa gen Yamanaka. Setelah virus tersebut masuk ke dalam tubuh, virus akan mengalami inaktivasi hingga inangnya berumur 40 tahun.

Jika orang tersebut telah menginjak usia 40 tahun, orang tersebut akan disuntikkan virus yang sama. Suntikan ini mengandung obat dengan senyawa di dalamnya yang serupa dengan doksisilin. Doksisilin inilah yang akan mengaktifkan faktor Yamanaka di dalam tubuh manusia.

 

  1. Manusia dengan usia tua yang banyak di bumi mempunyai kecenderungan yang lebih baik

Tercatat ada banyak manusia yang mampu hidup lebih dari satu abad. Jeanne Calment dari Prancis misalnya, yang meninggal pada usia 122 tahun. Ada juga orang Amerika dan Jepang yang usianya mencapai 107 tahun. Hal ini memberikan semangat baru bagi para ilmuwan untuk menyembuhkan penyakit penuaan pada manusia ini.

Manusia dengan umur panjang akan menimbulkan prospek masa depan yang lebih cerah dikemudian hari. Hal ini dinyatakan oleh seorang Ekonom dari Universitas Southern California yang menyatakan bahwa, semakin banyak orang yang berumur panjang, maka mereka akan mampu bekerja dan berkontribusi di pekerjaan mereka sebelumnya.

Pada saat orang mampu bekerja lebih lama, akan membuat minat mereka membeli suatu produk akan semakin besar. Hal ini akan menguntungkan produsen. Kemudian pada saat mereka pensiun, mereka akan lebih banyak melakukan investasi dibandingkan membelanjakan uang mereka.

Usia seseorang yang panjang akan membawa peningkatan vitalitas ekonomi. Hal ini dikarenakan akan banyak uang yang akan mengalir di sektor ekonomi, sehingga mampu memperbaiki ekonomi global. Manfaat lainnya adalah orang dengan usia panjang akan mampu menjalani kehidupan yang lebih produktif, sehat, dan lebih bahagia.

 

Kesimpulan:

Jika kita ingin mempunyai umur yang panjang maka kita harus mengubah pola pikir mengenai penuaan. Hal ini dikarenakan penuaan bisa disembuhkan dengan menggunakan obat. Penelitian di bidang genetika telah berhasil menemukan solusi untuk memperlambat proses penuaan di dalam tubuh manusia.

Apa yang bisa dilakukan?

  • Berolah raga secara teratur
  • Menjaga pola makan dan perbanyak makan sayur dan buah.
  • Kurangi konsumsi daging atau sumber protein hewani.
  • Menjaga pikiran agar selalu positif

Itulah pembahasan kita kali ini tentang Buku Lifespan karya John W Santrock.

Leave a Comment