8 Tips Memakai Intuisi dalam Pengambilan Keputusan. Review Buku Blink karya Malcolm Gladwell

PenulisKreatif.com – Intuisi dalam Pengambilan Keputusan. Manusia modern umumnya menggunakan riset yang panjang untuk mengambil sebuah keputusan. Banyak tolak ukur yang dipakai, tapi tak jarang terjadi kesalahan yang hasilnya kurang memmuaskan. Maka sebagai pembanding akan penilaian sadar itu, ada penilaian intuitif, dimana seseorang bisa mengambil keputusan dengan cepat dengan menggunakan alam bawah sadarnya.

Penilaian intuitif ini sebenarnya juga sangat penting, apalagi bagi kamu yang dalam kehidupan sehari-hari dihadapkan dengan pengambilan keputusan yang harus cepat karena tuntunan pekerjaan.

Jika kamu sering menggunakan intuisi dalam membuat sebuah keputusan, maka buku Blink karya Malcolm Gladwell wajib untuk kamu baca. Hal ini penting, karena terkadang, meskipun kita telah melakukan pemikiran yang panjang dan matang, keputusan kita kembali ke pilihan awal, intuisi.

Memang intuisi ini pun tidak jarang justru memberi keputusan yang lebih baik, dibanding keputusan yang merupakan buah dari pemikiran yang panjang dan matang, karena intuisi ini tumbuh dari sikap fokus dan teliti terhadap informasi yang relevan maupun tidak.

Dalam buku ini, kamu akan belajar tentang kapan menggunakan intuisi, dan kapan untuk tidak menggunakannya saat membuat keputusan.

8 Tips Memakai Intuisi dalam Pengambilan Keputusan oleh Malcolm Gladwell

  1. Penilaian intuitif VS penilaian sadar

Otak memiliki 2 strategi mengenai caranya mengambil keputusan :

a. Penilaian dengan Sadar.

Dihasilkan melalui 3 urutan, yaitu memroses informasi yang diterima, menimbang pro dan kontranya, kemudian memutuskan dengan otak rasional. Sayangnya, proses ini terkadang membutuhkan waktu yang lama sehingga tidak cocok untuk segala kondisi.

b. Penilaian Intuitif.

Penilaian ini dihasilkan dari ketidaksadaran, tanpa analisa. Hanya berdasarkan firasat. Sehingga, muncul dengan sangat cepat. Strategi kedua ini memungkinkan otak dengan santai dan tidak tegang dalam proses berpikirnya.

Orang-orang cenderung lebih memercayai hasil pemikiran mereka dari strategi yang pertama, karena telah melalui proses analisa terlebih dahulu. Padahal, tidak jarang strategi kedua justru menghasilkan keputusan yang lebih unggul dibanding yang pertama.

Misalnya, seorang pekerja seni yang dapat merasakan sebuah karya seni yang palsu, hanya dengan melihat dan merasa ada yang aneh pada lukisan yang dilihatnya.

Dalam kasus tersebut, otak bawah sadar seperti mengenali pola dan keteraturan yang lebih cepat dibandingkan otak rasional yang berpikir logis dan sadar. Nah, sehingga di saat seperti inilah seharusnya intuisi itu bekerja dengan baik.

 

  1. Tentang penilaian intuitif

Ketelitian memang hal yang penting. Namun dalam pengambilan keputusan yang membutuhkan waktu cepat, akan kurang efektif jika kita memperhatikan satu-persatu informasi yang ada. Intuisi ini membantu kita menyaring fakta penting saja dan membuang sisanya.

Misalnya, kita sedang mengamati pasangan. Kita ingin mengetahui apakah mereka bertahan lama atau tidak. Dengan cepat, intuisi kita mampu memutuskan bahwa mereka akan segera menemui masalah, hanya dari perilaku salah satu pihak yang menghina dan meremehkan pihak lainnya.

Namun, jika kita menggunakan kesadaran dan ketelitian dalam menentukan keputusan, kita akan mencari banyak aspek seperti apa obrolan mereka, postur mereka, dan lain-lain untuk menentukannya. Kita akan memeriksa setiap informasi yang ada, namun justru seringkali melupakan indikator penting seperti tatapan saling menghina dan meremehkan diantara mereka.

Dalam hal ini, pengambilan keputusan cepat dengan intuisi lebih dibutuhkan, karena lebih mampu menyaring informasi penting dan tidak penting dengan cepat.

 

  1. Penilaian intuitif menghasilkan keputusan yang lebih cepat dari yang kita sadari

Kebanyakan orang memang lebih percaya pada fakta dan angka yang telah dipikirkan secara rasional dan matang. Namun kenyataannya, pada kehidupan sehari-hari, kita lebih sering menggunakan intuisi yang muncul dari otak alam bawah sadar kita dalam mengambil keputusan.

Misalkan ketika kita bertemu seseorang, secara langsung kita membuat keputusan pada diri sendiri bahwa kita menyukainya. Padahal, kita sudah memiliki banyak kriteria yang telah disusun oleh otak rasional kita, dari jauh-jauh hari sebelumnya tentang pasangan idaman kita. Namun, ketika bertemu seseorang, tiba-tiba saja kita bisa mengabaikan daftar tersebut dan lebih menuruti intuisi kita.

 

  1. Keputusan kita sangat dipengaruhi oleh alam bawah sadar

Alam bawah sadar banyak mempengaruhi tindakan kita. Banyak hal yang masuk di alam bawah sadar kita, yang secara tidak langsung mempengaruhi pengambilan keputusan.

Seperti halnya, laki-laki yang tinggi dan berkulit putih cenderung akan dikaitkan dengan kekuatan dan kompetensi. Mereka akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan dan posisi dibanding yang lainnya, karena otak bawah sadar kita membentuk ini secara otomatis.

Penelitian pun telah mengatakan demikian. Banyak jabatan dan posisi yang diduduki oleh pria berkulit putih.

Namun, tak selamanya ini benar. Jika kita hanya mengaitkan ciri fisik dengan kemampuan mereka. Contohnya, kasus Warren Harding. Sejarah mencatatnya sebagai presiden terburuk Amerika Serikat sepanjang masa. Dahulu, massa memilihkan karena dia terlihat seperti mampu memimpin sebagai seorang presiden.

intuisi dalam pengambilan keputusan 1

  1. Stres dapat menyebabkan penilaian kita salah

Kita semua bisa membaca pikiran orang lain, dengan cara melihat raut wajahnya. Ekspresi adalah bahasa non verbal yang paling relevan untuk menunjukkan suasana hati pemiliknya. Dan ini, berlaku untuk semua manusia di seluruh negara di dunia.

Namun, orang-orang dengan autisme, mereka tidak bisa membaca informasi hanya dari raut wajah seseorang. Mereka hanya mampu memperoleh informasi dari apa yang disampaikan secara langsung.

Tetapi kenyataannya, orang yang tidak autis sekalipun dapat menjadi autis sementara. Hal ini dikarenakan stres dan tekanan. Dalam kondisi tersebut, orang akan mengabaikan banyak sinyal yang muncul dari ekspresi wajah di sekeliling mereka. Mereka hanya fokus pada ancaman yang membuat mereka stres dan tertekan. Untuk menghindari hal seperti ini, kita perlu memperlambat dan mengurangi penyebab stres di lingkungan kita.

 

  1. Riset pasar

Riset pasar diperlukan dalam menilai perilaku calon konsumen, agar produk kita diterima oleh pasar. Namun, seringkali tes pasar ini memberikan hasil yang salah.

Misalnya, saat Coca Cola mulai tergeser oleh Pepsi. Coca Cola membuat sebuah produk baru yaitu New Coke, yang mereka buat dengan riset pasar terlebih dahulu. Riset pasar tersebut dilakukan dengan memberikan tes rasa terhadap sejumlah orang acak dengan seteguk coke. Setelah tes rasa dilakukan, mereka dengan yakin meluncurkan New Coke.

Namun, sekarang New Coke malah akan ditarik dari pasaran. Mengapa? Riset pasar yang mereka lakukan salah. Pembeli cenderung tidak yakin dengan produk baru di awal launching. Konsumen hanya perlu membiasakan dengan produk baru tersebut sebelum mereka mulai menyukainya. Tes pasar yang lebih tepat, cukuplah dengan membiasakan mereka meminum sekaleng coke dengan bersantai di sofa rumah masing-masing.

 

  1. Hindari prasangka dengan keluar dan mengalami hal baru

Para Psikolog masih banyak menemukan kecenderungan prasangka rasial pada banyak orang. Misalnya, jenis kelamin, warna kulit, tinggi badan, masih sangat berpengaruh terhadap acuan kualitas seseorang.

Meresahkannya adalah sikap ini telah masuk dalam segala aspek kehidupan sehari-hari kita.

Untuk menghindari diri dari prasangka rasial ini, kita perlu keluar lebih jauh untuk mengenal banyak orang dan mengalami hal baru. Ini secara tidak langsung akan mengubah sikap bawah sadar kita.

Misalnya, seorang siswa mampu mengesampingkan prasangka rasial, karena dia mendukung tim sepak bola AS yang mayoritas diisi oleh orang-orang berkulit hitam. Sehingga, ini menumpulkan dampak warna kulit para atlet pada diri siswa tersebut.

 

  1. Cara menghindari penilaian cepat yang buruk

Sekarang kita tahu bahwa prasangka dan stereotip bisa menyebabkan penilaian cepat terpengaruh. Menghadapi ini, kita harus mampu menyaring informasi yang berpotensi menyesatkan. Kita pun juga bisa mengabaikan informasi yang tidak relevan dengan cara yang sengaja.

Misalnya, wanita dulunya sering dianggap tidak pantas dan tidak cocok menjadi seorang musisi. Untuk mengatasi masalah tersebut, industri musik mengadakan audisi dengan calon musisi dibalik layar tertutup, sehingga juri dapat dengan adil menilai mereka tanpa gender. Akhirnya, sekarang banyak sekali wanita berbakat yang berhasil dalam sektor musik di dunia.

 

Kesimpulan :

Otak bawah sadar kita dapat menciptakan penilaian atau keputusan dalam waktu sekejap. Penilaian tersebut dapat lebih baik dibandingkan hasil pemikiran rasional, asalkan kita mampu mengesampingkan informasi-informasi yang tidak relevan.

Apa yang harus dilakukan?

Keluarlah lebih jauh dan alami lebih banyak hal, sehingga memungkinkanmu mengurangi prasangka dan stereotip yang mempengaruhi otak bawah sadar.

 

BERGABUNG BERSAMA KAMI
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Bergabunglah dengan lebih dari 3.000 orang yang telah menerima email rutin dari kami, dan pelajari cara menulis kreatif di sosial media, artikel blog dan buku. Siapa tahu ini bisa menjadi sumber penghasilan sampingan bahkan utama Anda !
Email Anda aman bersama kami

Leave a Comment