Sejarah Google Maps dan Google Earth. Review Buku Never Lost Again karya Bill Kilday

PenulisKreatif.com – Sejarah Google Maps dan Google Earth. Apakah kamu pernah tersesat pada saat melakukan sebuah perjalanan? Mungkin jika kamu pernah merasakan kebingungan karena tidak tahu arah, kamu akan membuka ponsel pintarmu, lalu mengaktifkan sebuah aplikasi yaitu Google Maps. Tapi apakah kamu pernah tahu sejarah dari aplikasi tersebut?

Never Lost Again adalah salah satu buku yang menjelaskan sejarah adanya Google Maps dan Google Earth. Penulis buku sendiri merupakan salah satu direktur marketing di Keyhole, sebelum akhirnya berpindah ke Google.

Setelah berpindah ke Google, penulis menjabat sebagai kepala staf marketing, yang menangani Google Maps dan Google Earth.

Sebelum populer seperti sekarang, kedua fitur awalnya bernama EarthViewer, dibawah naungan Perusahaan Keyhole. Keyhole termasuk salah satu perusahaan yang kurang terkenal. Silicon Valley terus mengembangkan perusahaan tersebut, hingga mampu bergabung dengan Google di tahun 2005.

Buku ini dirancang bagi kamu yang tertarik dengan teknologi. Selain itu, bisa untuk bacaan bagi pemimpin perusahaan yang ingin mencari inspirasi. Cocok juga untuk kamu yang menggemari Silicon Valley.

Sejarah Google Maps dan Google Earth menurut Bill Kilday

1.Keyhole adalah perusahaan pertama sebelum adanya Google Maps

Cerita perintisan Google Maps dan Google Earth di mulai pada tahun 1999. Bill Killday mempunyai seorang teman kuliah di Universitas Texas, yang terkenal cerdas bernama John Hanke.

Pada suatu hari Bill serta Shelly tunangannya, mendapati John sedang merakit komputer yang ada di kamar mereka. Nampak di layar komputer tersebut, penampakan sebuah titik biru dengan latar belakang berwarna hitam.

Kedua pasangan ini menganggap bahwa itu hanyalah gambar biasa dan tidak tertarik dengan hal tersebut. kemudian John menunjukkan fakta pada gambar itu dengan cara memperbesarnya dan ternyata gambar tersebut adalah Bumi.

Berawal dari hal tersebut mereka bisa melihat penampang Benua Amerika. Setelah itu lebih mengerucut lagi, sehingga bisa melihat Amerika Serikat, Austin, Texas, hingga rumah Bill dan Shelly.

Hal tersebut merupakan cikal bakal Google Maps dan Google Earth yang disebut dengan EarthViewer. Hingga pada akhirnya, teknologi tersebut di adopsi oleh perusahaan kecil di Silicon Valley yang disebut Keyhole.

Perusahaan ini menunjuk John sebagai CEO yang akan memimpin tim perangkat lunak setelah melihat temuan EarthViewer. Keyhole mempunyai cita-cita mengembangkan proyek tersebut agar bisa diakses seluruh dunia. Akan tetapi hal tersebut masih membutuhkan banyak waktu.

Masa tunggu yang lama tersebut berubah menjadi waktu yang singkat. Hal tersebut dikarenakan adanya pengumpulan data bumi yang berasal dari gambar satelit gratis NASA. Tapi gambar-gambar tersebut mempunyai resolusi rendah sehingga memaksa Keyhole melakukan cara yang lain.

Cara tersebut yaitu menggunakan satelit yang telah mempunyai teknologi lebih canggih. Selain itu, juga bisa menggunakan pesawat luar angkasa yang terbang lebih rendah. Melalui hal ini, Keyhole mampu mendapatkan gambar dengan resolusi yang tinggi.

Konsep tersebut membuka suatu kerjasama dengan Airphoto USA milik JR Robertson. Melalui kerjasama tersebut, mereka mengirimkan 14 pesawat luar angkasa yang telah mampu memetakan kota-kota besar. Berawal dari inilah Keyhole memulai proses pemetaan dunia.

 

  1. Keyhole mampu bertahan disaat perusahaan lain menghilang

Pada tahun 2001, terjadi kekacauan yang membuat banyak perusahaan memilih untuk mengundurkan diri dari buble dot com. Hal ini dikarenakan banyaknya investor yang telah menanam modal, tiba-tiba menarik investasi mereka. Dampak buruk juga terjadi pada pebisnis teknologi, termasuk Keyhole.

Keyhole yang masih seumur jagung masih membutuhkan investor untuk mengembangkan teknologi mereka. Akan tetapi sedikit dari penanam saham yang mau percaya dan bekerja sama dengan Keyhole. Untuk menetralisirnya, Keyhole mencoba mencari jalan keluar.

Keyhole mencoba menarik banyak konsumen dengan EarthViewer, agar bisa diakses semua orang. Hal pertama yang dilakukan adalah promosi EarthViewer pada saat pameran dagang.

Bill Killday yang pada saat itu menjabat sebagai manager pemasaran Keyhole, menunjukkan Pantai Nikaragua pada setiap pengunjung stan mereka. Bill Killday memperbesar dan memperkecil area pantai, hingga nampak bentangan pasir putih dan hutan yang masih asri. Benar saja bahwa cara ini mampu menarik banyak orang termasuk pemerintah.

Misalnya saja, San Bernardino County di California Selatan. Mereka menggunakan EarthViewer untuk melacak kebakaran hutan yang ada di daerahnya.

Selain itu, EarthViewer juga digunakan oleh lembaga kejaksaan di Santa Clara. EarthViewer diaplikasikan untuk mencari Scott Peterson, yang membunuh istrinya yang sedang mengandung. Cara yang digunakan yaitu dengan menyelipkan GPS di bagian bumper truk yang bisa membuat penyelidik mengetahui lokasi kaburnya Scott Peterson.

EarthViewer mulai menjalankan fungsinya. Bukan hanya melacak, EarthViewer juga mampu mengetahui kecepatan dan waktu perjalanan truk Scott Peterson. Beberapa hari kemudian tubuh istrinya ditemukan di pantai, begitu pula Scott Peterson yang kemudian dihukum karena ulahnya.

 

  1. Adanya perseteruan AS dan Irak membuat Keyhole berjaya

Tahun 2003 merupakan tahun keemasan bagi Keyhole. Adanya invasi yang dilakukan AS pada Irak, membuat Keyhole banjir akan permintaan. Salah satunya adalah CNN.

David Kornmann salah satu karyawan Keyhole, mendapatkan faks dari CNN yang menawarkan kerjasama dengan imbalan sebesar $75.000. Kerjasama tersebut menjadikan EarthViewer sebagai bagian dari liputannya berkenaan dengan konflik Amerika dan Irak pada saat itu.

Sebenarnya John Hanke tidak terlalu tertarik dengan tawaran tersebut, akan tetapi dia melihat peluang dan memanfaatkan peluang tersebut sebagai sebuah syarat. Syarat yang diajukan pada pihak CNN adalah mereka harus menyertakan URL EarthViewer pada setiap laporan mereka.

Dan akhirnya keputusanpun telah dibuat dan CNN memulai siaran invasi Irak. Reporter mereka yang bernama Miles O’Brien, menggunakan EarthViewer untuk mengetahui kondisi Baghdad saat itu. Disana dapat dilihat kerusakan bom yang sangat luas di Ibukota Irak tersebut. sesuai dengan perjanjian, URL EarthViewer selalu ditampilkan di pojok kanan atas layar siaran.

Alhasil, URL tersebut dibanjiri banyak pengunjung. Hal ini membuat Keyhole naik daun dengan muncul di berbagai media cetak besar di AS, diantaranya Newsweek dan New York Times, yang membuat permintaan skala dunia EarthViewer melonjak naik.

Selain itu, Keyhole juga menandatangi kontrak bernilai $1,5 dengan IN-Q-Tel. In-Q-Tel menawarkan aplikasi EarthViewer untuk aktivitas intelijen. Kontrak ini menjadi kontrak yang sangat menjanjikan bagi Keyhole.

Review Buku Never Lost Again karya Bill Kilday

  1. Google menambah fiturnya dengan membeli Keyhole

Bulan April 2004, John Hanke dan Bill Killday pergi untuk minum di suatu bar. Sebelum sampai tempat tersebut, John membicarakan hal penting pada Bill yang tidak boleh diberitahukan kepada siapapun.

John memberi tahu Bill, bahwa perusahaan ternama Google ingin membeli fitur yang dia buat dengan harga $27 miliar. Sontak kabar ini mengagetkan Bill dan membuatnya heran.

Hal ini dimulai pada saat petinggi-petinggi Google mengadakan sebuah pertemuan. Pertemuan tersebut membahas perangkat lunak yang digunakan untuk mengedit foto yakni Picasa.

Ditengah rapat, Sergey Brin mengambil alih rapat dan menunjukkan EarthViewer yang dimiliki oleh Keyhole, kepada para petinggi Google saat itu. Brin meyakinkan kepada semua orang yang ada disana bahwa Google harus membeli perusahaan Keyhole.

Setelah itu, pihak Google mengundang John Hanke untuk bertemu dengan pendiri Google Larry Page dan Sergey Brin di kantor pusat perusahaan. Hanke yang telah mengetahui bahwa EarthViewer akan dibeli sempat bertanya pada mereka tentang layak atau tidaknya EarthViewer menjadi bagian dari Google. Pendiri Google, Page, menjelaskan bahwa itu lebih dari layak karena EarthViewer bisa menjadi inti dari Google.

Konsep yang dimuat EarthViewer sangat cocok untuk Google. Hal ini disebabkan EarthViewer dan Google sama-sama mengatur data. Search Engine akan mengarahkan orang ke situs website yang paling cocok. Sedangkan, EarthViewer yang mempunyai progam pemetaan wilayah bisa digunakan orang untuk pergi ke tempat satu ke tempat lainnya.

 

  1. Kolaborasi tim Google dengan tim Keyhole untuk membuat GoogleMaps

Pada akhirnya Keyhole menandatangani kesepakatan dengan Google. Anggota Keyhole yang berjumlah 29 orang dipekerjakan seluruhnya di Google.

Karyawan Keyhole tersebut mendapatkan fasilitas yang mewah dari Google. Mereka mendapatkan akomodasi, konsumsi, Techshop yang menyediakan perangat lunak, router Wi-Fi, dan fasilitas mewah lainnya.

Setelah selesai rekrutmen karyawan Google, mereka mulai bekerja. Pekerjaan mereka yang pertama adalah merancang GoogleMaps dengan membagi mereka ke dalam tiga kelompok.

Masing-masing kelompok mempunyai tugas yang berbeda. Kelompok pertama seluruhnya berisikan tim Keyhole. Tim ini bertugas untuk mengubah gambar yang ditangkap oleh satelit dan udara menjadi penampil browser. Setelah itu hasilnya akan diolah oleh kelompok kedua.

Kelompok kedua yang beranggotakan Lars dan Jens Rasmussen, mengembangkan metode “pra-penguraian” untuk bisa dipetakan dalam bentuk digital. Dengan adanya progam ini nantinya setiap orang bisa melihat berbagai macam tempat dengan cepat. Selain Rassumen bersaudara, metode ini juga dikerjakan oleh Bret Taylor. Dari kerjasama itulah terbentuklah tampilan peta.

Kelompok terakhir yang berisikan karyawan Google dan Egnor, serta Elizabeth Harmon, mengembangkan sebuah data titik. Data titik ini akan mempermudah orang untuk mencari fasilitas umum seperti toko, kafe, atau lainnya dengan keakuratan posisi lokasi yang tinggi.

 

  1. Reformasi informasi dipicu oleh hadirnya GoogleMaps

Secara resmi GoogleMaps dirilis pada Februari 2005. Setelah proses rilis tersebut GoogleMaps mendapatkan ulasan yang baik di masyarakat.

Seiring dengan daya tarik yang bermagnet pada GoogleMaps, membuat para pengembang bisnis serta pengembang website mencoba mengikuti manfaat adanya GoogleMaps. Hal ini mendorong mereka menciptakan inovasi yang menjadikan GoogleMaps sebagai acuan.

Misalnya, Paul Rademecher yaitu animator DreamWorks. Rademecher berhasil membuat sebuah kode situs website dan membuat inovasi progam yang bekerjasama dengan GoogleMaps.

Hasilnya dia mampu membuat situs web bernama housing.com. Situs ini bisa digunakan untuk mencari dan menampilkan sewa property di daerah San Francisco.

Selain itu, GoogleMaps juga dimanfaatkan untuk pengembangan website kejahatan di Chicago dan beberapa fitur besar lainnya. Fitur-fitur tersebut meliputi Hotels.com, Yelp, Stava, dan Uber. Dalam hitungan hari, bisnis ini menghasilkan pundi-pundi uang hingga milyaran dollar.

 

  1. Teknologi Google dimanfaatkan untuk melakukan berbagai kebaikan

Google menjadi salah satu bisnis yang berbeda di seluruh dunia. Dengan tujuan dan kualitas produk yang dihasilkan untuk para pengguna, membuat Google menjadi mesin pencari yang paling diminati banyak orang. Hingga pada suatu saat Google bisa digunakan untuk menyelamatkan banyak nyawa di dua peristiwa.

Peristiwa pertama yaitu adanya Badai Katrina di Amerika Serikat bagian Timur pada tahun 2005. Badai tersebut membuat banjir besar di daerah New Orleans. Hal ini membuat tim Google membantu mereka.

John Hanke selaku pemimipin melakukan koordinasi dengan pilot untuk membantunya mengunggah data ke GoogleMaps dan Google Earth. Data ini akan dipergunakan untuk memberi gambar pada para pengungsi New Orleans, bahwa kota mereka hancur karena banjir.

Penggunaan Google yang paling bermanfaat yaitu ketika menyelamatkan seorang warga sipil yang terjebak banjir di New Orleans. Kisah ini dimulai pada saat Bill Killday mendapatkan pesan suara yang berasal dari Ron Shroeder.

Ron Shroeder adalah sersan tim medis yang bekerja di helicopter. Ron Shroeder menggunakan Google Earth untuk membantu orang-orang yang terjebak dalam banjir di New Orleans.

Salah satu korban banjir terjebak dalam loteng rumahnya kemudian menelpon 911 untuk meminta pertolongan dan memberikan alamat rumahnya. Tim rescue dari penjaga pantai langsung mengetik alamat rumahnya ke Google Earth untuk menemukan titik koordinat rumah korban tersebut. Dengan bantuan GPS kemudian informasi itu dikirim ke helicopter pencari dan berhasil menyelamatkan korban banjir tersebut.

Kisah heroik kedua Google Earth yaitu ketika adanya proyek eksploitasi penebangan kayu di hutan. Kisah ini diawali dengan Bill Killday yang bertemu dengan Rebacca Moore pada Bulan Oktober. Moore adalah salah satu praktisi lingkungan yang memanfaatkan Google Earth untuk mencegah eksploitasi penebangan, yang merusak pegunungan Santa Cruz.

Moore menjelaskan kepada anggota komunitasnya dengan menggunakan Google Earth. Di penjelasannya tersebut Moore mengungkapkan efek kehancuran yang akan terjadi jika penebangan pohon tersebut dilakukan.

Moore juga meyakinkan pada masyarakat untuk tidak ragu menolak proyek penebangan tersebut. Perlakuan Moore membuat petinggi Google terkesan dan mempekerjakan Moore di Google Earth.

 

Kesimpulan:

Lahirnya GoogleMaps dan Google Earth dimulai dari rintisan perusahaan kecil yang bernama Keyhole. Perangkat lunak yang sebelumnya dinamai EarthViewer, menjadi ternama setelah CNN menggunakan perangkat ini untuk mengabarkan kondisi Irak pada saat terjadi perang invasi Amerika dan Irak.

Setelah berjalan lama, pada tahun 2005 Keyhole dibeli oleh perusahaan Google dan dikembangkan hingga menjadi GoogleMaps dan Google Earth. Kedua progam ini mampu mengubah seluruh dunia.

Apa yang harus dilakukan?

Adanya kemampuan dalam diri harus selalu diasah seperti John Hanke, yang mempunyai kemampuan dalam bidang IT, hingga berhasil membuat cikal bakal Google Maps dan Google Earth.

 

Leave a Comment