Buku Rich Dad’s Cashflow Quadrant karya Robert Kiyosaki : Panduan Mencapai Kebebesan Finansial

PenulisKreatif.com – Buku Rich Dad’s Cashflow Quadrant karya Robert Kiyosaki. Banyak orang yang memimpikan untuk hidup berkelimpahan. Namun, banyak juga yang hanya berhasil membuat itu semua tetap menjadi mimpi saja.

Kiyosaki pernah menyaksikan ayahnya sendiri menjadi pejabat pemerintah yang terlalu banyak bekerja dan akhirnya jatuh ke dalam hutang dan kehancuran finansial. Setelah itu, dia bersumpah tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi dalam hidupnya sendiri. Jadi, dia belajar menciptakan kekayaan di mana pun dia berada.

Buku ini memuat panduan untuk mencapai kebebasan finansial tanpa harus bekerja sekeras apa yang banyak orang lain lakukan.

9   Panduan Mencapai Kebebesan Finansial menurut Robert Kiyosaki

  1. Empat kuadran tentang cara orang menghasilkan uang

Gambarlah sebuah tanda “plus” (+) besar di selembar kertas. Pasti terlihat sebuah garis horizontal dan garis vertikal. Garis ini membagi bagian menjadi 4 ruang. Ruang-ruang itulah yang disebut kuadran.

Kita bisa memberi label di setiap ruang tersebut. Label E dan S di sebelah kiri garis vertikal, sedangkan B dan I di sebelah kanan garis.

Label E atau Employee berarti karyawan. Label S atau Self-Employee, berarti wiraswasta atau pemilik bisnis kecil. Label B atau Big Business Owner berarti pemilik bisnis besar. Dan terakhir label I berarti investor.

Dari ke-4 jenis kuadran tersebut, kita bisa menentukan posisi kita dalam menghasilkan uang sesuai pekerjaan kita masing-masing.

Kita bisa mengambil contoh seorang dokter. Dokter tersebut bisa mencari uang dengan cara E atau sebagai karyawan. Dia bisa melakukannya dengan bergabung dengan staf rumah sakit besar atau perusahaan asuransi, bekerja untuk pemerintah di bidang kesehatan masyarakat, atau menjadi dokter militer.

Selain itu, dokter tersebut juga bisa memutuskan untuk bekerja di kuadran S dan memulai wirausaha sendiri dengan membuka praktik pribadi. Dia akan mendirikan kantor, mempekerjakan staf, dan membuat daftar pribadi pasien. Ini masih kerja keras, tapi dia punya kendali lebih.

Dokter pun memiliki pilihan ke-3, yaitu sebagai B. Dia bisa memiliki klinik sendiri dan mempekerjakan dokter lain. Jadi, dia akan memiliki klinik tetapi tidak harus bekerja di dalamnya sendiri. Di sisi lain, ia dapat melanjutkan sebagai seorang profesional medis yang bekerja dan memiliki bisnis yang tidak terkait dengan kedokteran.

Dan ke-4, sebagai dokter berpenghasilan tinggi, dia mungkin juga memiliki pendapatan yang dapat diinvestasikan. Jadi, sambil praktek kedokteran, menjalankan kliniknya, atau mengawasi usahanya, dia juga bisa menjadi I (investor). Dia bisa melakukannya dengan berinvestasi di saham atau properti.

Semua kuadran ini membutuhkan kemampuan dan karakteristik pribadi yang berbeda. Dan semua orang berhak bebas untuk menentukan ingin di kuadran mana mereka menghasilkan uang, karena kuadran ini tidak bersifat salah dan benar.

Namun, untuk menjadi seorang yang bebas finansial, kita perlu memindahkan kuadran E dan S ke kuadran B dan I. Intinya, beralih dari bekerja menjadi memiliki. Ini adalah point penting pertama dalam Buku Rich Dad’s Cashflow Quadrant karya Robert Kiyosaki.

 

  1. Belajar dan bekerja keras tidak akan membawa ke kebebasan finansial

Robert Kiyosaki pernah tumbuh besar di Hawaii. Di sana, dia memiliki 2 figur ayah, yaitu ayah kandungnya dan teman ayahnya. Ayah kandungnya bekerja di pemerintahan, sedangkan teman ayahnya bekerja sebagai pengusaha dan investor.

Karena sering mengamati kedua figur tersebut, dia mendapatkan pelajaran berharga mengenai pekerjaan dan uang.

Ayah kandung Kiyosaki, terlihat dari permukaan sangatlah sukses di dunia pemerintahannya. Dia berpendidikan tinggi dan dihormati. Saat menjadi siswa hingga bekerja, dia memperoleh nilai dan posisi yang sangat bagus dan tinggi.

Sayangnya, perannya di pemerintahan membuatnya sibuk. Setiap harinya penuh dengan agenda dan dia tidak memiliki waktu untuk bersama dengan keluarganya. Tidak hanya itu, dia bahkan tidak memiliki waktu untuk melakukan hobinya yaitu membaca buku.

Selain itu, uangnya pun sangat sedikit. Dia penganut aliran bahwa bekerja keras dapat menyelamatkannya tanpa harus melakukan investasi. Dia memiliki pendidikan keuangan yang tidak sebaik pendidikan lainnya. Bahkan, dia tidak berpikir ada yang namanya pendidikan keuangan dan secara terbuka mengejek siapa pun yang mengambil kelas tentang investasi atau real estate.

Berbeda dengan figur ayah yang dia dapatkan dari teman ayah kandungnya, Mike. Dia adalah seorang pengusaha dan investor yang banyak memiliki waktu dan uang. Bahkan, Mike menghabiskan lebih banyak waku dengan Kiyosaki dibandingkan dengan ayah kandungnya.

Mike tidak memiliki pendidikan formal, namun sangat paham mengenai dividen dan penilaian tanah. Sejak awal dia sudah memutuskan, bahwa dia harus segera keluar dari kerja kantoran dan beralih dari kuadran S dan E.

Di awal, Mike membeli properti sedikit demi sedikit hingga akhirnya dia memiliki banyak sekali hotel. Di saat banyak orang terpelajar mencemoohnya, dia menerima banyak keuntungan pasif dari hotel yang dia kelola. Sekarang, dia bahkan memiliki semua waktu di dunia. Ini adalah point penting kedua dalam Buku Rich Dad’s Cashflow Quadrant karya Robert Kiyosaki.

 

  1. Bekerja keras VS bekerja cerdas

Suatu hari, Mike bercerita pada Kiyosaki yang menyebabkannya memahami mengenai perbedaan kuadran E dan S dengan kuadran B dan I.

Ceritanya seperti ini :

Dahulu kala, ada sebuah desa kecil yang bermasalah karena tidak ada pasokan air. Untuk mengatasi hal ini, para tetua desa memutuskan untuk memanggil dua kontraktor, Ed dan Bill.

Kontraktor pertama, Ed, langsung bekerja. Dia memutuskan untuk membawa dua ember baja ke danau terdekat, mengisinya, dan membawanya kembali sendiri. Butuh berjam-jam baginya untuk mengisi tangki air desa sendiri. Di akhir hari, badannya seperti remuk. Namun, dia memperoleh uang dari hasil kerjanya.

Kontraktor lainnya, Bill, menghilang untuk sementara waktu, yang membuat Ed senang karena sekarang dia tidak punya saingan. Tapi Bill tidak tinggal diam. Daripada menggunakan 2 ember baja untuk membawa air, Bill telah menulis rencana bisnis, mendirikan perusahaan, menemukan investor, mempekerjakan seorang ketua, dan mengumpulkan kru konstruksi.

Dalam setahun, tim Bill telah membangun pipa baja tahan karat yang menghubungkan desa dengan danau. Kemudian, dalam waktu singkat, Bill memperluas jaringan pipanya ke desa-desa lain. Air yang dia sediakan lebih bersih, lebih murah, dan lebih mudah didapat daripada milik Ed. Tak lama kemudian, dia menghasilkan uang dari keseluruhan sistem yang dia buat. Segera, dia tidak lagi harus bekerja sama sekali. Sedangkan Ed, dia masih terus bekerja.

Pada akhirnya, Bill melanjutkan untuk menjual bisnis pipanya dan pensiun menjadi kaya raya. Ed, bagaimanapun, hanya bisa melihat dengan sedih ketika anak-anaknya memutuskan untuk tidak mengambil alih usaha ember airnya dan pindah ke kota.

Kisah sederhana Ed dan Bill adalah perbedaan mendasar antara kuadran kiri dan kanan, yaitu tentang bekerja keras dan bekerja cerdas.‌ Ini adalah point penting ketiga dalam Buku Rich Dad’s Cashflow Quadrant karya Robert Kiyosaki.

 

  1. Keamanan finansial tanggung jawab kita sendiri

Saat ini, kita hidup di zaman informasi, yang dimulai sejak tahun 1991, setelah sebelumnya kita berada di zaman industri. Seluruh dunia sudah bergerak dengan sangat cepat, sayangnya masih banyak dari kita yang belum mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Faktanya, banyak dari kita yang mengikuti pola pikir bahwa jika kita taat membayar pajak dan bekerja keras, maka pemerintah akan bertanggungjawab atas kita di masa depan. Sayangnya, itu salah.

Misalnya, diperkirakan tahun 2020 akan ada lebih dari 100juta penduduk Amerika yang akan bergantung pada bantuan pemerintah, baik itu pegawai federal, veteran militer, guru, pegawai pemerintah lainnya, dan pensiunan yang bergantung pada pembayaran Jaminan Sosial dan Medicare. Mereka membayar ke dalam sistem dan dijanjikan sesuatu sebagai balasannya.

Sayangnya ini sulit untuk dipenuhi sepenuhnya. Biayanya terlalu tinggi. Dan jika pemerintah menaikkan pajak untuk membayar janji-janji ini, orang-orang yang sangat kaya akan melarikan diri ke negara-negara dengan pajak yang lebih rendah. Sehingga, untuk mencapai kebebasan finansial, kita harus berpindah ke kuadran kanan, yaitu pada kuadran B atau I.

Ayah kandung Kiyosaki yang bekerja sebagai pejabat pemerintahan, meletakkan keamanan masa depannya di tangan pemerintah. Namun kemudian, perselisihan dalam pemerintahan menyebabkannya kehilangan pekerjaan dan masuk daftar hitam di pemerintahan Hawaii. Tanpa pengalaman dan ilmu, dia mencoba berbagai bisnis dan gagal. Akhirnya dia tenggelam dalam hutang.

Berbeda dengan Mike, dia telah menciptakan sistem pendapatan pasif, aliran uang tunai yang terus mengalir, yang mengalir ke rekening banknya. Dia telah memasuki kuadran I di awal kehidupannya, dan kuadran itu melindunginya sepanjang sisa hari-harinya.

Review Buku Rich Dad’s Cashflow Quadrant karya

  1. Perbedaan mendasar setiap jenis orang dari masing-masing kuadran

Kiyosaki mempelajari adanya perbedaan tipe kepribadian orang-orang yang berada di kuadran berbeda.

Kuadran E, berisikan orang-orang yang bekerja sebagai karyawan suatu perusahaan. Biasanya mereka secara alami tertarik dengan pekerjaan ini karena menawarkan keamanan dan manfaat. Mereka ingin kepastian  dalam bentuk kontrak, gaji tetap, dan tunjangan pekerjaan. Dan mereka sering didorong oleh rasa takut akan risiko dan kemiskinan finansial. Bukan apa yang mereka lakukan yang menentukan mereka, tetapi keamanan kontraktual yang mereka pilih. Orang-orang di kuadran ini bisa saja seperti petugas kebersihan hingga presiden suatu perusahaan.

Kedua, kuadran S. Kuadran ini diisi oleh mereka yang memiliki bisnis kecil atau wiraswasta. Mereka tidak suka pendapatan mereka diatur oleh orang lain. Jika mereka bekerja keras, maka hasil yang diperoleh juga akan besar. Namun, jika mereka tidak melakukan pekerjaan dengan baik, hasilnya pun sedikit. Seringkali orang dalam kuadran ini bersifat perfeksionis. Mereka percaya bahwa tidak ada yang bisa melakukan pekerjaan yang lebih baik daripada yang mereka bisa. Bagi mereka, kemandirian lebih penting daripada uang. Dan mereka juga didorong oleh rasa takut terhadap hilangnya kebebasan mereka.

Selanjutnya, kuadran B untuk pemilik bisnis besar. Secara umum, kuadran ini berkebalikan dengan kuadran S. Mereka suka mengelilingi diri mereka dengan orang-orang pintar dari semua kategori lainnya. Bakat utama mereka adalah mendelegasikan. Contohnya, Henry Ford. Dia tidak ahli di bidang keuangan atau mekanik. Namun, dia pandai dalam mempekerjakan orang-orang yang ahli di bidangnya masing-masing. Mereka yang berada di kuadran B dapat membiarkan seluruh sistem berjalan saat mereka tidak melakukan apa-apa. Sebaliknya, mereka mengawasi sistem yang terus menghasilkan uang untuk mereka.

Terakhir kuadran I atau investor. Kuadran ini seringkali ditempati oleh orang-orang yang memiliki kekayaan luar biasa. Mereka mampu mengambil resiko yang diperhitungkan. Mereka tidak takut volatilitas, namun tetap suka meneliti resiko. Sehingga, investasi tidak lagi berbahaya bagi mereka.

 

  1. Cara paling pasti untuk mencapai kebebasan finansial

Banyak orang tentu menginginkan kebebasan finansial karena itu berarti dapat membuat kita bebas melakukan apapun, seperti berkeliling dunia, mengoleksi karya seni, atau menyelam scuba dengan pari manta.

Mari kita amati Bill Gates, Rupert Murdoch, dan Warren Buffet. Mereka berawal dari kuadran B. Kemudian, mereka berpindah ke kuadran I. Mengapa? Karena untuk menjadi kaya, kita butuh mengumpulkan kekayaan. Dan jalan pasti untuk melakukannya adalah dengan berinvestasi, baik dalam saham maupun properti.

Jika ingin berinvestasi secara efektif, perlu adanya aliran modal dan waktu yang baik. Dan cara terbaik untuk mencapainya adalah dengan mendirikan bisnis yang dapat menghasilkan uang saat kita tidur. Ini berarti menyiapkan seluruh sistem yang dapat beroperasi bahkan saat kita tidak hadir.

Ketika kita mampu menginvestasikan sejumlah uang besar secara cerdik, kita dapat beralih dari keamanan finansial kepemilikan bisnis ke kebebasan finansial sejati dari investasi skala besar.

Jika kita berhasil dalam bisnis, kita akan mampu dengan baik untuk menjadi investor yang hebat. Secara naluriah, kita akan memahami model bisnis mana yang akan menghasilkan pengembalian investasi yang lebih baik dan tahan lama.

Tanpa ketajaman bisnis ini, kita mungkin menyiapkan diri untuk kegagalan investasi. Banyak orang di kuadran E dan S berusaha untuk bergerak cepat ke kuadran I, tetapi karena mereka tidak memiliki pengalaman tentang apa yang membuat sistem bisnis hebat, mereka melakukan investasi yang buruk. Dan mereka memiliki dana terbatas untuk diinvestasikan. Itu membuat investasi mereka semakin berisiko.

 

  1. Lima kelas investor

Menjadi investor bisa jadi sangat menakutkan bagi sebagian banyak orang. Namun, bagi seorang pemula, berbekal dengan sedikit pendidikan, bisa saja menjadi investor yang percaya diri.

Jadi, apa yang berbeda?

Terdapat 5 kelas investor, yaitu :

  1. Kelas Level Zero-Financial-Intelligence.‌‌

Ini adalah kelas untuk sebagian banyak orang. Mereka tidak memiliki apapun untuk diinvestasikan, bahkan saat mereka sedang memiliki cukup banyak uang. Hal ini dikarenakan mereka memiliki terlalu banyak hutang jika dibandingkan dengan pendapatan mereka. Jadi, untuk menjadi investor, mereka harus menyeimbangkan dahulu keuangan dasar mereka.

2. Kelas Level Savers-Are-Losers.‌‌

Kelas ini juga banyak dihuni oleh mereka yang tidak begitu paham mengenai finansial. Mereka menganggap bahwa dengan menabungkan uang mereka, mereka akan aman di kemudian hari. Sayangnya, tingkat pengembalian bunga yang rendah membuat mereka hanya memiliki sedikit sekali keuntungan dari memarkirkan uang mereka di bank. Sehingga, seperti saat krisis moneter di 2008, mereka langsung kehabisan tabungan mereka begitu saja.

3. Kelas Level I’m-Too-Busy-Investor.‌‌

Pada kelas ini, mereka menyerahkan uang untuk diinvestasikan pada sebuah manajer keuangan. Pada kelas ini, mereka memang lebih berhasil dibanding 2 kelas sebelumnya. Namun, tetap saja mereka menghadapi resiko yang besar karena hanya meletakkan keamanan pada sebuah manajer keuangan, yang tentunya mereka bukanlah seorang investor sukses, namun hanya seorang karyawan di perusahaan keuangan tersebut.

4. Kelas Level I’m-A-Professional

Kelas ini merupakan jenis pertama investor profesional yang sebenarnya. Mereka mendidik diri mereka sendiri, melakukan penelitian mendalam, fokus dalam investasi, dan mengembangkan pendidikan keuangan yang sangat berguna bagi mereka sepanjang hidup mereka. Dan ingatlah, pendidikan keuangan adalah bentuk investasi yang besar.

5. Kelas Level Kapitalis

Level ini dihuni oleh Warren Buffet dan kawan-kawan. Langkah pertama, kita harus menjadi seorang di kuadran B yang sukses. Lalu, menanamkan modal ke dalam investasi yang lebih beresiko. Jadi, bangunlah sebuah kerajaan bisnis. Jika ini tidak sesuai denganmu, maka kamu bisa lebih baik di level 4.

 

  1. Uang memprovokasi perasaan irasional

Manusia juga seringkali merasakan perasaan irasional, seperti saat sedang jatuh cinta. Namun, jika perasaan irasional muncul karena uang, kita harus segera bisa mengatasi.

Banyak dari kita yang memiliki ketakutan yang tidak logis terhadap beberapa hal. Misalkan saat Kiyosaki menjadi seorang pemula di Angkatan Udara, dia menghadiri sebuah seminar mengenai cara bertahan hidup di alam liar.

Dalam kelas tersebut, diajarkan bagaimana cara kita memakan ular saat di kondisi tersebut. Saat sebuah ular taman yang tidak berbisa dikeluarkan di dalam kelas, seorang pria yang merupakan pilot, langsung saja berteriak, berlarian ketakutan. Fobianya terhadap ular menguasainya seberapapun dia mencoba menahannya.

Uang pun dapat berlaku demikian. Berinvestasi memiliki kekuatan untuk mengubah orang-orang yang rasional menjadi kelimpungan seperti pilot tersebut saat melihat ular. Banyak orang merasa sulit untuk berpikir logis tentang uang karena ini subjek emosional yang sangat penting untuk kesejahteraan kita.

Perlu diingat, bahwa jika irasional ini menyangkut uang, penting agar logika menang dibandingkan perasaan tersebut.

Sebenarnya, berinvestasi di properti atau pasar saham tidak harus terlalu berisiko dan menakutkan. Aturannya sederhana, jika kita terlalu takut akan kehilangan, kita harus mengamankan lebih banyak “rumah” yang menguntungkan. Baik itu dalam properti maupun saham.

Terdapat hadiah nyata untuk mereka yang mampu melihat uang secara rasional. Kiyosaki mempelajari ini sejak dini. Saat dia berjuang untuk kesuksesan finansial, dia dan istrinya kehilangan tempat tinggal, dan akhirnya tinggal di mobil mereka.

Tetapi daripada menyerah pada ketakutan dan meninggalkan impian mereka, mereka memilih tetap pada jalan mereka, mereka akan berhasil. Jadi mereka perlahan membangun bisnis dan 4 tahun kemudian, mereka menjadi jutawan.

 

  1. Untuk mencapai kesuksesan finansial, ambil langkah kecil dan ingat jangka panjangnya

Mencapai kebebasan finansial adalah sebuah perjalanan yang panjang. Tidak ada sesuatu, apalagi untuk menjadi kaya, yang dapat dilakukan dengan instan. Mungkin sering beredar buku dan kursus di luaran sana yang menjanjikan kekayaan dengan cepat. Banyak dari mereka terdengar luar biasa. Namun, pada kenyataannya, orang yang akan menjadi kaya adalah mereka yang menjual kursus tersebut. Dan yang membelinya, seringkali membutuhkan waktu lama untuk memperoleh kekayaan tersebut.

Terlalu sering kita menginginkan kepuasan segera. Segalanya tampaknya diarahkan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, segera setelah kita menginginkannya. Tapi seperti kata pepatah, Roma tidak dibangun dalam sehari. Faktanya, banyak investor besar memulai dari langkah kecil dan terus meningkat. Ingat, bahkan Warren Buffet mulai dari menjual permen karet dari pintu ke pintu. Jadi, kita pun harus memulai dari yang kecil dan menetapkan tujuan yang dapat dicapai. Jangan terlalu memaksakan diri atau keuangan kita untuk menjadi kaya.

Dan berpikir jangka panjang berarti mendekati masa depan secara pragmatis. Sayangnya, era informasi ini membuat segalanya lebih fluktuatif termasuk kemananan pekerjaan di masa depan. Sehingga, jangan pernah merasa aman dan kecanduan menghasilkan uang dengan cara bekerja dan menghasilkan gaji dari suatu perusahaan. Karena itu tidak akan bertahan jangka panjang.

Jadi, cara terbaik untuk mencapai kebebasan finansial adalah melalui investasi majemuk jangka panjang. Investasi majemuk berarti memulai sedini mungkin, dengan modal sekecil apapun, untuk memulai investasi. Dan mengembalikan keuntungan yang didapatkan ke dalam investasi lagi. Sehingga, keuntungan yang didapat akan semakin berlipat dan besar.

Selain itu, berinvestasi pada pendidikan keuangan juga merupakan hal yang sangat penting. Ini bisa sama pentingnya dengan keamanan jangka panjang kita. Pemahaman yang baik tentang pasar saham atau sektor real estat dapat jauh lebih bermanfaat daripada portofolio investasi yang berisiko. Kemudian, jika masa depan menjadi sulit, kita akan memiliki alat untuk kembali ke jalan menuju kebebasan finansial!

Ingin memiliki bukunya ? Beli disini saja

Kesimpulan :

Ada empat cara berbeda untuk menghasilkan uang yaitu sebagai karyawan, wiraswasta atau menjalankan bisnis kecil, memiliki bisnis besar, dan berinvestasi.

Meskipun tidak ada satu cara yang lebih benar untuk menjalani hidup, jika kita ingin mencapai kebebasan finansial, maka yang terbaik adalah beralih ke kepemilikan bisnis besar dan berinvestasi.

Apa yang bisa dilakukan :

Mulailah investasi dari sekarang ! Sekian pembahasan kita kali ini tentang Buku Rich Dad’s Cashflow Quadrant karya Robert Kiyosaki.

 

Leave a Comment