Buku Leadershift karya John C Maxwell : 7 Proses Transformasi Pemimpin

PenulisKreatif.com – Buku Leadershift karya John C Maxwell. Dunia saat ini berubah dan bergerak dengan sangat cepat. Dibutuhkan pemimpin yang lebih gesit daripada sebelumnya. Jika sebelumnya kita hanya cukup dipimpin oleh seorang manajer, namun ketidakpastian dunia saat ini membuat kita membutuhkan pemimpin kuat dan tangkas untuk membimbing kita melaluinya.

Buku ini membantu kita mengembangkan kemampuan dalam memimpin dan menumbuhkan keinginan untuk melakukan perubahan positif. Hal ini tentunya akan mendorong perubahan positif, baik‌‌pada pertumbuhan diri sendiri maupun organisasi yang kita pimpin.

7 Proses Transformasi Pemimpin menurut John C. Maxwell

Berbekal pola pikir dan pemikiran yang benar, kita semua dapat mencapai hal hebat sebagai pemimpin. ‌

  1. Pemimpin yang hebat tidak berusaha untuk bersinar sendiri, namun berusaha mengeluarkan kemampuan terbaik dari tiap anggotanya

Banyak calon pemimpin yang kebanyakan memikirkan diri mereka sendiri. Berfokus pada tujuan dan aspirasi mereka sendiri.

Mereka tidak menyadari bahwa menjadi seorang pemimpin bukanlah tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk diri sendiri, namun tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk orang lain.

Untuk menjadi pemimpin sejati, kita perlu mengubah pola pikir dari “saya” menjadi “kita”.

Kita dapat menganalogikan dengan sebuah tim orkestra. Banyak pemimpin terjebak dalam pola pikir seorang solois. Mereka berpikir mereka adalah pemain yang harus dilayani oleh semua orang.

Sedangkan seharusnya seorang pemimpin sejati harus berperilaku seperti seorang konduktor. Seorang konduktor berfokus pada bagaimana cara mereka membantu orang lain untuk menghasilkan hasil yang terbaik.

Kunci untuk beralih dari seorang solois menjadi seorang konduktor adalah dengan memahami setiap orang yang berada di dalam tim. Nah, untuk bisa memimpin dengan baik, kita juga harus merasakan bagaimana rasanya dipimpin. Kepercayaan, kerja sama, dan saling pengertian adalah hal yang penting untuk dilakukan di sini.

Jadi, bersikaplah seperti konduktor. Berfokuslah untuk membantu tim dalam menciptakan hasil terbaik mereka. Kita dapat melakukan ini dengan cara memperhatikan sikap dan hubungan kita dengan mereka. Pusatkan kepemimpinan kita di sekitar kebutuhan mereka.

Dengarkan mereka terlebih dahulu, sebelum meminta mereka mendengarkan kita. Cari tahu hal baik apa yang telah dilakukan oleh tim dan berilah mereka pujian. Jika kita menetapkan gambaran besar untuk perusahaan, pastikan mereka ada di dalamnya. Jangan hanya memberitahu mereka tentang visi perusahaan, namun melibatkan mereka untuk membuatnya.

Tindakan ini sederhana, namun memberikan dampak yang luar biasa terhadap kinerja mereka. Dan semua ini tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh fokus pada pertumbuhan diri kita sendiri. Kita hanya perlu melakukannya dengan cara yang benar. Ini adalah point penting pertama Buku Leadershift karya John C Maxwell

 

  1. Mengembangkan pola pikir pertumbuhan

Pengelaman ini dialami oleh penulis buku ini, Maxwell, ketika menjadi seorang pemimpin gereja di sebuah gereja di kota kecil di Ohio. Ketika memimpin gereja, dia memiliki tujuan untuk menjadikan gerejanya yang terbesar di negara bagian itu. Dan itu berhasil, dia mencapainya dalam 1 tahun. Bahkan pada tahun 1975, gerejanya diakui sebagai gereja dengan pertumbuhan tercepat di Ohio.

Setelah perayaan, Maxwell merenungkan semua itu. Saat dia memikirkan pencapaian tersebut, dia menyadari bahwa ternyata pertumbuhan pribadinya yang dialami selama ini lebih penting dibandingkan pencapaian numeriknya untuk menumbuhkan keanggotaan gereja. Dan itu mengarah pada perubahan pola pikir pemimpin, yaitu dari pola pikir tujuan ke pola pikir pertumbuhan.

Pola pikir tujuan menekankan pencapaian dan status, sedangkan pola pikir pertumbuhan menghargai perkembangan dan peregangkan diri. Pola pikir tujuan memprioritaskan pencapaian target dan menanyakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke sana, sedangkan pola pikir pertumbuhan hanya bertanya, “Seberapa jauh saya bisa melakukan ini?”.

Sebagai contoh, seorang profesor Universitas Liberty, Elmer Towns, yang berhasil menjual 110.000 buku tulisannya dan memiliki tujuan untuk menjual lebih banyak lagi copian dari bukunya tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, dia mengubah pola  pikirnya dari pola tujuan ke pola pertumbuhan. Daripada berfokus pada penjualannya, dia lebih memfokuskan diri menjadi penulis yang baik.

Beberapa tahun kemudian, penerbitnya memberinya piala kristal yang diukir dengan kata-kata “satu juta buku terjual.” Ternyata dengan berfokus pada pertumbuhan, dia telah mencapai jauh lebih banyak daripada yang pernah dia tetapkan untuk dirinya sendiri sebagai tujuan.

Kunci untuk memiliki pola pertumbuhan adalah dengan memiliki semangat untuk belajar. Memiliki keinginan untuk belajar dan juga menetapkan langkah-langkah praktis untuk melakukannya. Kita perlu merencanakan, mempersiapkan dan mengusahakannya. Jadi setiap hari, sadari bahwa ada kesempatan untuk belajar dan berkembang, apa pun yang sedang kita lakukan dan dengan siapa pun kitaa berada. Tetap ingin tahu dan niatkan untuk belajar.

Dan pastikan, kita dikelilingi oleh orang lain dengan pola pikir yang berkembang. Prinsip itu disebut dengan hot poker. Ibarat kata mereka adalah api, jika kita berada selalu di dekat mereka yang berpola berkembang dan tumbuh, kita akan ikut serta panas (dalam artian ikut bertumbuh). Namun, jika kita mulai berjarak dengan mereka, kita akan kembali dingin. Ini adalah point penting kedua Buku Leadershift karya John C Maxwell

 

  1. Pemimpin tidak hanya memanjat tangga, namun juga membangun tangga

Beberapa pemimpin mungkin memikirkan tentang seberapa banyak anak tangga yang dapat mereka panjat. Namun, untuk seorang pemimpin sejati, mereka membuat perubahan, dari yang berpikir menaiki tangga untuk diri sendiri menjadi berpikir bagaimana tangga tersebut bisa digunakan juga oleh orang lain.

Syarat untuk mengajak orang lain menaiki tangga yang sama adalah dengan membuktikan bahwa kita sendiri telah sukses dan berhasil menaiki tangga tersebut sendiri. Aturan praktis dari Maxwell, dengan kita berada di 10% posisi teratas di bidang tertentu, maka kita telah dikatakan aman untuk menawarkan bantuan tersebut kepada orang lain.‌‌Dan itulah cara untuk melihat kesuksesan kita dan sumber yang bagus untuk digunakan membantu orang lain.

Bagaimana cara membantu orang lain menaiki tangga tersebut? Cara yang bisa dilakukan adalah dengan mentoring. Hal pertama yang harus dilakukan adalah memutuskan siapa yang akan dibimbing. Pikirkan baik-baik. Waktu terbatas, jadi jika kita hanya bisa berinvestasi pada 1 atau 2 orang, sebaiknya mereka menjadi orang yang tepat.

Untuk memastikan pilihan yang bijak, tanyakan pada diri sendiri mengenai beberapa pertanyaan kunci, yaitu :

  • Pertama, tentukan apakah orang-orang ini hanya berharap atau mereka benar-benar haus akan pengetahuan dan pembelajaran. Ada banyak orang di dunia yang berharap untuk hal-hal yang lebih baik, tetapi hanya sedikit yang haus akan hal itu. Pilihlah mereka yang tidak hanya mengatakan, “Seharusnya ada jalan,” melainkan, “Saya akan menemukan jalan”. Investasikan pada orang-orang ini.
  • Kedua, tentukan apakah kandidat memiliki potensi kepemimpinan sejati. Itu karena seorang pemimpin akan mempengaruhi banyak orang lain. Jadi berinvestasi dalam membentuk masa depan mereka memiliki dampak yang lebih luas daripada jika hanya membimbing seorang pengikut. ‌

Review Buku Leadershift karya John C. Maxwell

  1. Terhubung baik dengan orang lain

Para pemimpin seringkali hanya berasumsi mengenai apa yang dibutuhkan mentee nya dan mengarahkan mereka untuk melakukan sesuatu sesuai apa yang dia pikirkan. Padahal seharusnya, memimpin yang baik adalah dengan terhubung secara baik dengan mentee.

Dan hal tersebut telah dilakukan oleh Pat Summitt, pelatih basket Lady Volunteers Universitas Tennessee yang legendaris.

Saat pemain menyelesaikan babak pertama dan beristirahat di ruang ganti mereka, mereka tidak langsung menemui Summit, tetapi berkerumun di papan tulis yang berisikan 3 pertanyaan :‌‌A. Apa yang kita lakukan dengan benar?‌‌B. Apa yang kita lakukan salah?‌‌C. Apa yang harus kita ubah?

Setelah tim berdiskusi dan menemukan jawaban, barulah Summit menemui mereka dan berbicara dengan mereka. Dia mendengarkan mereka, merenungkan jawaban mereka dan membuat beberapa pengamatan sebelum mengirim mereka ke lapangan untuk paruh kedua pertandingan.

Menurut Summitt, terlalu banyak pemimpin yang memimpin berdasarkan asumsi. Daripada hanya mengasumsikan di mana para pemainnya secara mental dan hanya memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan, Summit lebih suka benar-benar memahami mereka dengan mengajukan pertanyaan dan mendengarkan mereka.

Summitt telah mencontohkan tentang kepemimpinan yang merangkul kolaborasi daripada otoritas, dan mendengarkan daripada berbicara. Jadi, jika kita ingin mengambil langkah yang sama, kita harus melakukan hal yang sama. Jadi belajarlah untuk mendengarkan dengan baik.

Lakukan seperti apa yang dilakukan Maxwell. Setiap kali kita bertemu dengan seseorang, keluarkan buku catatan untuk menulis. Dan di bagian atas kertas itu, tulis huruf L besar, singkatan dari “Listen.” Itu akan menjadi pengingat bahwa ketika kita bertemu dengan orang-orang sebagai seorang pemimpin, tugas kita bukan hanya berbicara, namun mendengarkan lebih banyak lagi.

Kita juga bisa menanyakan pada teman ataupun kolega, mengenai seberapa baik kita saat menjadi pendengar. Berikan skala 1-10 untuk mereka menilai kita. Perhatikan jawaban mereka dan tindak lanjuti. Dan minta mereka untuk memberi tahu kita kapan pun mereka merasa kita tidak mendengarkan mereka di masa mendatang.

Pemimpin yang terhubung baik dengan orang lain akan mengarah pada hubungan yang lebih baik, komunikasi yang lebih baik, dan aliran ide dua arah. Rangkullah perubahan pemimpin ini, dan kita akan segera mulai melihat hasilnya. ‌Ini adalah point penting keempat Buku Leadershift karya John C Maxwell

 

  1. Menghargai keragaman

Salah satu hal yang perlu disadari adalah bahwa pelajaran dan wawasan yang paling penting seringkali datang dari luar kelompok kita. Begitu pula dalam sebuah tim, dia akan lebih efektif dan berharga ketika mereka merangkul keragaman, karena keragaman membawa wawasan dan perspektif yang dapat mengisi kesenjangan pengetahuan.

Kita sebagai pemimpin tentunya tidak bisa mengetahui segala hal dengan baik, maka kita bisa mengandalkan tim untuk mengisi celah tersebut, dan tim dapat melakukannya dengan efektif ketika membawa perspektif yang berbeda ke meja.

Jika dilihat dari beberapa contoh, Abraham Lincoln membangun kabinetnya pun dari kelompok politik yang beragam, bukan dari kelompok yang saling bersekutu.

Kita juga bisa melihat Winston Churchill, yang membawa pemimpin oposisi, Clement Attlee, ke dalam kabinetnya dan memberinya peran-peran penting dalam pertemuan penyusunan strategi di masa perangnya.

Jika kita ingin mulai membuat beragam hidup kita, bisa dimulai dengan melihat lingkaran pertemanan dan rekan kita. Sebuah studi bahkan mengatakan bahwa 75% orang kulit putih Amerika tidak memiliki teman non-putih. Sehingga, apabila kita melihat teman dan kenalan sedikit mirip seperti bercermin, berusahalah untuk mengenal dan belajar dari orang-orang dari berbagai ras, usia, dan keyakinan politik dari kita. Kita mungkin terkejut betapa menyegarkannya dikelilingi oleh orang-orang dengan cara berpikir yang baru, menarik, dan berbeda. Ini adalah point penting kelima Buku Leadershift karya John C Maxwell

 

  1. Merangkul otoritas moral daripada otoritas posisional adalah jalan menuju kepemimpinan yang hebat

Seperti yang sering dikatakan Maxwell, kepemimpinan adalah pengaruh. Tapi darimana datangnya pengaruh seorang pemimpin?

Pelajaran pertama adalah bahwa gelar tidak sama dengan kepemimpinan. Kita lihat contoh ketika Maxwell baru saja menjadi pendeta di sebuah gereja kecil di Indiana. Menurut aturan gereja, dia yang memimpin gereja. Namun, saat pertemuan pertama dengan dewan gereja, yang mengambil alih komando justru seorang petani yang cukup disegani, bernama Claude.

Claude meminta Maxwell untuk membuka pertemuan dengan doa, namun Maxwell hampir tidak bergeming. Hingga akhirnya Claude dengan sopan meminta Maxwell kembali untuk menutup pertemuan dengan doa.

Jadi Maxwell mulai berpikir tentang apa yang memberi pengaruh pada Claude. Claude memang tidak terlalu kaya, tidak terdidik, dan terlihat tidak cukup mengesankan. Tetapi dia memiliki otoritas moral sebagai orang yang baik, jujur, adil, dan pekerja keras yang telah menjalankan nilai-nilai ini dengan konsisten selama beberapa dekade. Mungkin Claude tidak akan pernah berpikir bahwa dia mencerminkan seorang pemimpin. Namun kenyataannya, oleh semua orang, Claude memang dianggap berpengaruh.

Integritas adalah kualitas yang melekat dalam otoritas moral. Integritas mencerminkan kemampuan untuk menyelaraskan tindakan kita dengan kata-kata dan menjalankan nilai-nilai secara konsisten. Integritas membuat kita dapat diandalkan dan dapat dipercaya, sehingga diikuti oleh orang lain. Hal itu karena di mata orang lain, kita mampu melakukan apa yang kita katakan dan tindakan kita berakar pada nilai moral yang kuat.

Selain itu, perlunya bertindak dengan keberanian. Hal ini karena keberanian memungkinkan kita dan orang-orang di sekitar untuk mencapai potensi penuh dalam bertindak.

Kombinasikan keberanian dengan integritas, dan kita akan menjadi pemimpin yang akan diikuti orang dengan senang hati, apa pun tujuannya.

  1. Kehidupan yang bermakna

Seorang pejalan kaki menemukan 3 pengrajin di tempat kerja dan berhenti untuk bertanya kepada mereka apa yang mereka lakukan. Yang pertama mengatakan bahwa dia sedang meletakkan batu, yang kedua mengatakan bahwa dia sedang membangun tembok. Ketiga? Dia menjawab, dengan rasa bangga, bahwa dia sedang menciptakan katedral yang megah.

Banyak orang melakukan pekerjaan. Beberapa banyak orang memiliki karir, dan beberapa beruntung karena menemukan panggilan hidup dalam pekerjaan tersebut. Dan orang-orang dari kelompok ketiga inilah yang beruntung, yang telah menemukan sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri untuk dikejar. Mereka telah menemukan tempat di mana kegembiraan mendalam mereka bersinggungan dengan salah satu kebutuhan terdalam dunia.

Untuk mendapatkan panggilan seperti itu, tentu semua orang bisa mendapatkannya. Jika kita memahami apa itu panggilan, maka kita akan dengan baik menemukan posisi untuk mendapatkannya.

Hal pertama yang perlu diketahui tentang sebuah panggilan adalah bahwa panggilan itu cocok dengan diri kita. Tidak ada yang pernah dipanggil untuk sesuatu yang tidak cocok untuk mereka. Jadi tanyakan pada diri kita, apakah ada satu hal yang dapat kita lakukan selama berjam-jam, yang akan kita lakukan dengan senang hati selama sisa hidup kita, dan yang dapat membuat perbedaan positif bagi orang lain? Jika ada, itulah kemungkinan panggilan hidup kita.

Kedua, panggilan kita akan menjadi sesuatu yang kita sukai. Harold Thurman, filsuf Afrika-Amerika, menyarankan orang untuk tidak bertanya apa yang dibutuhkan dunia, tetapi bertanya apa yang membuat mereka hidup. Karena yang dibutuhkan dunia adalah orang-orang yang benar-benar hidup.

Tapi ingat, bahwa panggilan tidak hanya tentang diri kita. Panggilan juga berasal dari memberi, berpikir, dan melayani di luar sana.

Hidup tanpa adanya panggilan, akan membuat kita merasa cemas dan seakan hidup tanpa makna. Sehingga kita perlu menemukan panggilan kita, dan membuat segalanya berubah. Ini adalah point penting terakhir Buku Leadershift karya John C Maxwell

 

Ingin memiliki bukunya ? Beli disini saja

 

Kesimpulan :

Pemimpin terbaik berubah dan beradaptasi. Mereka melakukan pergantian pola kepemimpinan yaitu, mereka membuat perubahan kepemimpinan yang mendorong pertumbuhan mereka sendiri dan organisasi mereka.

Apa yang bisa dilakukan :

Teruslah belajar. Simpanlah catatan-catatan penting mengenai apa yang kita pelajari, agar kita mudah mengingat dan mempraktekkannya. Sekian pembahasan kita kali ini tentang Buku Leadershift karya John C Maxwell

Leave a Comment