Buku Rich Dad’s Who Took My Money Karya Robert Kiyosaki. Cara Mengamankan Masa Depan dengan Kombinasi Aset untuk Menghasilkan Uang

PenulisKreatif.com – Buku Rich Dad’s Who Took My Money Karya Robert Kiyosaki. Orang-orang saat ini mulai berbondong-bondong untuk bekerja keras dan menginvestasikan dana yang mereka punya untuk kepentingan pensiun atau masa depan. Namun, selalu ada kekhawatiran muncul untuk masa depan yang tidak pasti. Misalkan, bagaimana jika dana itu tidak cukup? Bagaimana jika pasar saham ambruk di saat mereka pensiun? Bagaimana jika terkena penyakit dengan biaya pengobatan mahal? Dan sebagainya.

Dalam buku ini, kita akan diajak untuk mengamankan masa depan keuangan dengan menggunakan kombinasi aset untuk menghasilkan uang dengan cepat.

6 Hal Penting dalam Buku Rich Dad’s Who Took My Money Karya Robert Kiyosaki

  1. Bertindak sekarang agar masa tua tidak dijalani dengan kemiskinan

Setiap kali penulis mengisi sebuah acara seminar bisnis, pasti akan ada seseorang yang bertanya, “Mengapa uang itu penting? Bukankah kebahagiaan lebih penting?”.

Mari kita lihat. Survey untuk USA Today menemukan bahwa 1 dari 3 orang Amerika ketakutan akan masa tua mereka yang tidak memiliki uang. Dan ketakutan itu jauh lebih besar dibanding perang nuklir maupun mengalami kejahatan.

Survey menunjukkan bahwa mereka yang berusia di atas 65 tahun tidak memiliki rencana pensiun sama sekali.  Banyak dari mereka yang ingin menunda kekhawatiran mereka di usia yang lebih tua.

Tanpa adanya uang pensiun yang layak, itu berarti kita harus tetap bekerja hingga tua. Banyaknya biaya hidup saat ini yang harus dipenuhi, misalkan hutang kuliah, pembayaran mobil, pajak, perawatan orang tua, dan lain-lain menyebabkan dana pensiun tidak memiliki ruang untuk direncanakan.

Bekerja hingga tua mungkin memang baik untuk kesehatan fisik dan mental. Namun, bekerja hingga tua karena suatu keharusan, sepertinya bukan pilihan yang baik.

Kehidupan kita dalam menghasilkan uang dibagi menjadi 4 kuadran, yaitu :‌‌A. Dari usia 25 hingga 35 tahun.‌‌B. Dari usia 35 hingga 45 tahun.‌‌C. Dari usia 45 hingga 55 tahun.‌‌D. Dari usia 55 tahun hingga pensiun.

Jika pada usia terbawah kita tidak bisa pensiun, maka kita tetap harus bekerja lembur di usia tua. Jika kita terlalu tua untuk bekerja, namun sudah tidak memiliki uang lagi, maka kita kehabisan waktu!

Tidak ada yang menginginkannya bukan? Maka di salah satu kuadran tersebut kita sudah harus berjuang menuju kemandirian finansial.

Banyak saran bertebaran diluaran untuk menabung, menginvestasikan dana di reksa dana, dan menyimpannya dalam jangka panjang. Namun, menurut penulis itu bukanlah saran terbaik. Ini adalah point penting pertama Buku Rich Dad’s Who Took My Money Karya Robert Kiyosaki.

  1. Cara terbaik menjadi kaya adalah dengan investasi kekuatan

Suatu kesalahan umum adalah hanya berinvestasi dalam aset kertas di sebuah reksa dana maupun saham individu. Ini memang merupakan cara termudah untuk investasi. Bahkan di reksa dana, kita hanya perlu meminta broker mengelola uang kita tanpa kita ikut campur memilih saham di dalamnya.

Namun, hal itu bukanlah cara menuju kemandirian finansial menurut penulis.  Kita hanya akan menunggu lama jika melakukan hal tersebut untuk kemandirian finansial. Cara terbaik adalah dengan menggunakan beberapa aset secara bersamaan dan membangun investasi yang kuat.

Untuk menjadi investor yang kuat, kita perlu memasukkan bisnis dan real estate daripada hanya menggunakan aset kertas. Integrasi dari 2 atau 3 aset ini akan membuat kita benar-benar kaya.

Ambil contoh Bill Gates. Ia menjadi orang terkaya dengan membangun sebuah perusahaan yang inovatif dan sukses di Microsoft dan membawanya ke publik. Seiring meningkatnya Microsoft, begitu pula harga saham, menjadikan Bill Gates multimiliuner. Ini menunjukkan betapa kuatnya integrasi antara bisnis dan aset kertas.

Sinergi antara beberapa aset berarti menciptakan sesuatu yang lebih dari jumlah bagian-bagiannya. Seperti halnya Bill Gates, kesuksesan bisnisnya mendorong harga sahamnya naik, yang menciptakan kekayaan dalam jumlah besar. Kemudian, dengan menginvestasikan kembali sebagian dari nilai ini kembali ke Microsoft, bisnis dapat berkembang dan berinovasi, yang mendorong harga saham lebih jauh lagi.

Sebuah bisnis kecil yang dikombinasikan dengan real estate dan investasi aset kertas dapat membuat kita seperti contoh di atas. Bahkan, jika kita bisa menjadi ahli dalam berinvestasi di setidaknya dua kelas aset ini, kita bisa menghasilkan sinergi.

Daripada menunggu seumur hidup untuk reksa dana yang membuat kita kaya, kita akan mandiri secara finansial dalam jangka waktu yang jauh lebih singkat.

 

  1. Berinvestasilah untuk arus kas

Mari kita membayangkan 2 jenis peternak, yaitu peternak sapi dan peternak sapi perah.

Peternak sapi akan memelihara kawanan sapi dalam waktu tertentu, memberinya makan, dan memberi kandang. Lalu ketika sapi-sapi tersebut mencapai usia tertentu, mereka akan dikirimkan ke tukang jagal. Keuntungan yang peternak ini dapatkan adalah dari daging-daging sapi yang terjual.

Namun, berbeda dengan peternak sapi perah. Mereka melakukan hal sama, yaitu memelihara, memberi makan, dan memberi kandang. Bedanya, peternak sapi perah ini tidak akan mengirim sapinya ke tukang jagal, namun akan memerah susu sapinya sendiri. Keuntungannya? Tentu saja didapatkan terus-menerus selama peternak memerah susu sapi tersebut.

Saat mencari aset, kita harus mengikuti contoh peternak sapi perah. Daripada membunuh sapi perah yang kita miliki untuk mendapatkan keuntungan modal, kita harus memerah susunya selama mungkin.

Misalkan ketika kita memiliki aset real estate. Kita membeli sebuah rumah seharga $40.000 dan merenovasinya. Lalu menjualnya seharga $80.000. Uang sebanyak $40.000 tersebut hanya akan menjadi keuntungan satu-satunya. Hal ini berbeda jika kita mengelola real estate tersebut menjadi sebuah bangunan sewa. Kita akan terus-menerus memperoleh keuntungan atas real estate tersebut.

Sayangnya, banyak orang yang berinvestasi dengan model peternak sapi. Ini karena hal tersebut lebih mudah dilakukan. Menjual saham atau reksa dana lebih mudah dilakukan dibandingkan memelihara aset bagus yang menghasilkan arus kas.

Kesalahan lain, banyak orang juga berinvestasi dalam waktu yang lama dengan tujuan untuk memanen semuanya saat mereka membutuhkannya. Sayangnya, tanpa prospek pengembalian segera, uang tersebut dapat terkena iklim ekonomi dan perubahan pasar saham. Kita bisa kehilangannya sebelum bisa melihat keuntungannya sepeser pun.

Jadi, carilah aset yang dapat melakukan pengembalian modal awal dalam 5 tahun pertama. Dapatkan keuntungan jika itu adalah bisnis, hasil sewa jika itu adalah real estate, dan dividen jika itu adalah aset kertas. Kemudian, jagalah mereka untuk tetap  menghasilkan uang untuk kita. Pikirkan bahwa susu sapi lebih berharga dibanding dagingnya.

  1. Seorang investor harus bekerja seperti penjudi profesional

Ketika berusia 20 tahun, penulis pernah pergi ke Las Vegas untuk berjudi. Dia memulai $1 untuk meja pertamanya, hingga akhirnya berhasil mengantongi $300.

Banyaknya semangat yang dia peroleh dari penonton, membuatnya semakin semangat dan tanpa sadar menjadi serakah. Dia melanjutkan posisinya di $3000, padahal hati kecilnya berkata berhenti atau melanjutkannya dengan jumlah yang lebih kecil. Dan akhirnya, dia kehilangan semuanya. Namun, dia memperoleh sebuah pelajaran.

Sama seperti kisah penulis di meja judi, banyak investor membiarkan uang mereka di meja terlalu lama. Mereka membayangkan harga saham melonjak dan mereka menjadi kaya raya. Sayangnya, pasar sering berubah-ubah. Dan bukan mustahil, mereka justru kehilangan semuanya.

Dalam kasus penulis di meja judi, seharusnya penulis mengantongi uang  kasinonya dan melanjutkan game dengan keuntungannya. Bahkan berhenti pun lebih baik. Dengan cara yang sama, investor harus mendapatkan kembali investasi awal mereka secepat mungkin dan kemudian beralih ke yang baru.

Misalkan jika membeli properti sewaan, kita harus mendapatkan kembali investasi awal dalam bentuk sewa dan kemudian memindahkan keuntungannya ke peluang real estate lainnya. Lebih baik lagi, kita dapat menggunakan leverage untuk membeli properti dengan uang pinjaman.

Hal itu agar kita menggunakan lebih sedikit uang kita di awal. Dan dengan keuntungan, kita dapat membeli properti sewaan lainnya. Secara efektif, kita menggunakan uang orang lain untuk menghasilkan uang bagi diri sendiri, yang merupakan cara terbaik untuk memperoleh kekayaan.

Triknya adalah mengambil uang kita sendiri lebih awal dan terus bergerak ke peluang baru. Bagi penulis, ini jauh lebih aman daripada berinvestasi untuk jangka panjang. Meninggalkan uang kita di atas meja hanya menempatkan pada risiko kehilangan semuanya dalam kehancuran pasar berikutnya.

 

  1. Melihat dunia dari sudut pandang bankir

Ketika penulis saat muda berkesempatan pergi ke sebuah bank, penulis bertanya pada seorang bankir mengenai kemungkinan dia meminjam uang dari bank untuk dimasukkan ke reksa dana.

Mendengar pertanyaan itu, petugas bank tersenyum sopan dan menjelaskan bahwa bank tidak bisa melakukan itu karena terlalu beresiko. Tidak ada cara untuk menjamin bahwa bank akan mendapatkan uang mereka kembali jika mereka meminjamkannya untuk investasi yang tidak stabil seperti itu. Dan sebelum mereka meminjamkannya uang untuk hal lain, mereka perlu melihat laporan keuangannya.

Akhirnya, penulis mempelajari 1 hal dari bank tersebut. Bankir tidak pernah menyerahkan uang kepada orang asing tanpa terlebih dahulu melihat laporan keuangan dan peringkat kredit mereka. Tidak peduli dengan kualifikasi mereka, yang bank butuhkan hanyalah kenyataan bahwa mereka pintar mengelola uang. Dengan kata lain, bankir juga memerlukan semacam asuransi atas uang yang mereka pinjamkan.

Begitupun kita, begitulah cara mendekati investasi yang potensial. Dengan kata lain, kita tidak boleh hanya menyerahkan uang kepada orang asing tanpa melakukan uji tuntas pada mereka.

Pertimbangkan segala sesuatu yang dapat mempengaruhi investasi kita, misalkan pajak, siklus ekonomi, dan hukum. Ini memang bervariasi, namun pada dasarnya sama.

Dengan melihat dunia dari sudut pandang para bankir, kita juga akan berada dalam kondisi yang lebih baik untuk meminjam dari mereka. Seperti yang telah kita lihat, kita dapat menggunakan leverage untuk meningkatkan investasi secara eksponensial.

Faktanya, meminjam untuk berinvestasi adalah salah satu cara utama orang ultra kaya membangun kekayaan mereka.

 

  1. Empat alasan utama kegagalan orang dalam finansial

Alasan pertama orang tidak berhasil secara finansial adalah karena dua kata: “Saya tidak bisa.”

Contoh nyatanya adalah saat penulis akan melakukan seminar di Cape Town. Ketika penulis sedang berkeliling kota dengan tuan rumahnya, tuan rumah tersebut berkata bahwa dia setuju dengan tulisan penulis mengenai investasi di real estate. Namun menurutnya itu tidak mungkin dilakukan di Afrika Selatan karena suku bunga terlalu tinggi.

Tapi di sekeliling kota yang mereka lalui, penulis banyak melihat gedung-gedung tinggi nan megah. Penulis pun dengan sopan berkata, “Mungkin Anda tidak bisa, namun orang lain bisa”. Dengan kata lain, kerja keras itu bisa membuatnya mungkin.

Alasan kedua, terlalu banyak orang berpikir bahwa berinvestasi seharusnya mudah. Banyak orang secara mudah berinvestasi di reksa dana, dan hanya membayar biaya administrasi bulanan. Mudah, tapi tidak begitu menguntungkan.

Kita perlu menjadi seorang investor aktif, terus mencari dan membangun investasi baru, mencari pembiayaan, dan memindahkan uang.

Alasan ketiga, banyaknya orang yang terperangkap pada jebakan yang dibuat orang kaya untuk orang miskin. Misalkan dalam contoh bankir, orang dapat dengan mudah memperoleh kartu kredit. Itu menandakan bankir memperoleh banyak uang dari kita, dan kita hanya ditinggalkan dengan kredit macet. Begitupun ketika kita berinvestasi di reksa dana. Ketika pasar saham turun, mereka masih menerima uang dari klien yang investasinya tidak berhasil menghasilkan uang.

Alasan keempat, karena terlalu banyak dari mereka berinvestasi tanpa memastikan bahwa uang mereka akan tetap ada saat mereka membutuhkannya. Mereka banyak mendengarkan manager keuangan yang menjanjikan keuntungan besar di masa depan, tanpa jaminan apapun. Padahal, seorang investor yang kuat harusnya menginginkan jaminan pengembalian hari ini.

Jadi setelah tahu cara terbaiknya, tidak akan ada yang bisa menghalangi kita untuk membangun kehidupan yang kaya!

Kesimpulan :

Untuk menghindari kemiskinan di hari tua, kita perlu mulai memikirkan situasi keuangan kita sekarang. Jika semua yang dilakukan adalah berinvestasi dalam reksa dana untuk jangka panjang, uang hanya akan tertahan di atas meja dan beresiko hancur. Tetapi jika kita menggabungkan kelas aset yang berbeda untuk menciptakan sinergi dan menjaga uang kita bergerak dari satu investasi ke investasi berikutnya, kita dapat menghasilkan arus kas yang konstan dan membangun kekayaan sejati.

Sekian pembahasan kita kali ini tentang Buku Rich Dad’s Who Took My Money Karya Robert Kiyosaki. Semoga menjadi bacaan bermanfaat bagi Anda.

Leave a Comment