6 Cara Mengurangi Persaingan, Menambah Sinergi dalam Hidup

PenulisKreatif.com – Cara Mengurangi Persaingan. Kita harus menyadari bahwa seekian lama makin banyak manusia yang stress. Mereka merasa hidupnya sangat tertekan, karena merasa dalam hidupnya penuh dengan persaingan. Ya, sudah jamak diketahui bahwa dimanapun kita berada seakan kita selalu bersaing antara satu dengan yang lainnya. Bukannya menjadi semangat, banyak yang akhirnya patah semangat karena merasa kalah.

Padahal jika kita ganti mindsetnya, sebenarnya dibalik persaingan yang ada, di sisi lain ada kerjasama, sinergi, kolaborasi dan apapun itu yang menyebutkan bahwa dalam hidup kita bisa saling menguntungkan antara satu dengan yang lain, tidak melulu saling menjatuhkan untuk menjadi juara.

Jika Anda tertarik pada mindset ini, Anda bisa membaca sebuah buku yang membahas tentang ini. Ya, Margaret Heffernan dalam karyanya, A Bigger Prize, mempercayai bahwa kompetisi dalam hidup sebenarnya membuat kita tidak berkembang. Selama ini kita dijejali dengan doktrin bahwa menjadi yang paling pintar, memiliki kucing paling cantik, memiliki CV yang menakjubkan, itu adalah hal terpenting. Kebanyakan dari kita menyukai kompetisi dan terobsesi untuk menang. Dalam buku ini, kita akan belajar bahwa hal ini merugikan kita.

6 Cara Mengurangi Persaingan menurut Margaret Heffernan

  1. Hidup bukanlah ajang kompetisi

Dalam hidup, jika kita hanya memikirkan menang dan kalah, pasti akan kecewa. Dalam sebuah kompetisi, tentunya hanya akan ada sedikit orang yang menduduki kursi juara. Banyak lainnya tentu akan menjadi yang kalah. Maka, jika kita menganggap tujuan hidup adalah persaingan, kita hanya akan gagal dan sengsara.

Persaingan dapat membuat kita stres dan kesehatan terganggu. Ketika kita menganggap hidup ini persaingan, kita akan selalu merasa harus menjadi yang terbaik dan menganggap orang lain sebagai pesaing kita. Dengan itu, kita akan berusaha melakukan semuanya sendiri dan berujung dengan stres dan kurang tidur. Kita menjadi mudah kelelahan.

Rasa kompetitif ini juga membuat kita mengambil resiko yang tidak perlu. Seperti misalnya seorang atlet melakukan olahraga terlalu keras demi menang.

Rasa kompetitif ini juga membuat kita enggan melakukan hal yang sebenarnya baik. Seperti misalnya berolahraga. Jika kita menganggapnya sebagai kompetisi, dan kita merasa kita tidak bisa berolahraga, maka kita akan berakhir menghindarinya agar tidak kalah sama sekali. Padahal, seharusnya olahraga adalah hal baik untuk tubuh kita.

 

  1. Persaingan di sekolah

Di sekolah, siswa diberikan peringkat berdasarkan kinerja mereka. Ini membuat mereka bekerja lebih keras untuk mendapatkan peringkat terbaik. Masalahnya, seringkali kompetisi di sekolah ini berakhir dengan membanding-bandingkan antarsesama. Sehingga, terbentuk mindset bahwa pendidikan hanya seputar kalah dan menang. Dan siswa akan bergantung pada itu sebagai sumber motivasi satu-satunya.

Sayangnya, beberapa siswa memiliki jiwa kompetitif yang kurang. Siswa dengan kinerja rendah, kecil kemungkinannya akan terdorong untuk belajar karena kompetisi ini. Yang mereka lakukan justru melakukan kecurangan demi menaikkan peringkat mereka.

Keinginan untuk menang dan memperoleh pujian, menutupi motivasi yang seharusnya ada di dunia pendidikan yang benar, yaitu motivasi intrinsik. Dalam kasus ini, siswa dengan motivasi intrinsik, melakukan pembelajaran karena mereka ingin tahu dan menyukainya.

Seperti, siswa belajar ilmu alam karena mereka menyukai serangga. Siswa membuat lukisan karena mereka menyukai melukis. Motivasi seperti itu yang tidak akan pernah luntur meskipun pujian menghilang.

 

  1. Persaingan dapat merusak hubungan sosial

Dalam lingkup keluarga, persaingan seringkali terjadi. Orang tua cenderung secara tidak langsung memantiknya dengan membandingkan anak-anak mereka. Tujuannya adalah agar satu sama lain saling terinspirasi dan menumbuhkan semangat untuk menjadi orang yang lebih baik.

Namun, hal ini menimbulkan sikap persaingan antara kakak dan adik. Tujuannya adalah untuk meraih perhatian dan pujian dari kedua orang tua. Seperti misalnya, seorang kakak menyayangi adiknya yang lucu dan imut. Namun, rasa kompetitif lebih besar dan menganggap ini bentuk persaingan untuk mendapatkan perhatian dari sang Ayah. Sehingga, hal tersebut menghalangi rasa kasih dan sayang kepada adiknya.

Hal serupa juga terjadi dalam dunia percintaan. Seperti saling balas dendam dalam perselingkuhan, agar tidak dianggap kalah. Menggunakan kencan dan percintaan agar terlihat keren, dengan mengabaikan keintiman dengan pasangan.

 

  1. Persaingan menjauhkan dari kerjasama dan saling berbagi

Salah satu masalah dari persaingan adalah membatasi kerjasama, tidak saling mendukung, dan tidak saling berbagi. Kamu menganggap dunia ini kompetisi, sehingga orang lain dianggap sebagai lawan yang harus kalah agar kamu tetap menang. Ini membuatmu enggan untuk berbagi ide maupun saling membantu.

Contoh pertama, ketika penelitian dianggap sebagai kompetisi untuk meraih hibah maupun pekerjaan. Orang akan cenderung menyembunyikan inovasinya untuk diri sendiri dan menghindari kolaborasi.

Mereka akan enggan membiarkan orang lain turut serta mendapat pujian atas inovasi mereka. Padahal, dengan kerjasama dan saling mendukung, dapat menjadi strategi lebih baik untuk mengembangkan produk yang sedang disiapkan.

Contoh lain, ketika kamu enggan menautkan sebuah artikel hebat dari sebuah blog milik orang lain di akunmu. Hanya karena kamu enggan orang tersebut memiliki banyak pengikut dibanding kamu dan lebih populer. Padahal, sebenarnya justru masing-masing menjadi saling mengenali dan bisa saling merekomendasikan pada pembacanya. Otomatis lalu lintas blog keduanya akan lebih ramai.

 

  1. Persaingan dalam dunia bisnis

Ekonomi pasar bebas ini mengharuskan perusahaan bersaing untuk memperoleh posisi di hadapan pelanggan. Mereka melakukan ekspansi besar dengan merger dan akuisisi. Mereka menjadi perusahaan yang dihormati, dapat mempengaruhi harga, dan memiliki pengaruh politik.

Sayangnya, ini tidak selalu baik. Perusahaan yang melakukan ekspansi dengan membeli banyak perusahaan lain, cenderung akan melakukan hutang yang besar untuk mendanai hal itu. Dan untuk menutup utangnya, perusahaan mengurangi biaya pemeliharaan. Hal ini justru akan menjadi kerugian di masa mendatang bagi perusahaan.

Kerugian lain juga dialami oleh publik. Perusahaan besar dan juga bank, akan memegang peranan besar dalam keuangan negara. Hal ini tentunya akan membuat negara membantu perusahaan dan bank, untuk tetap berdiri sehingga keuangan negara tidak akan terimbas.

Namun, dengan adanya dukungan dari negara, perusahaan dan bank akan lebih berani mengambil resiko investasi, karena mereka akan tetap mendapat bantuan dukungan dari negara. Namun, bagi publik, ini artinya pajak besar-besaran akan habis untuk mendanai perusahaan swasta.

Jika terjadi perang harga di beberapa perusahaan, dan mereka menurunkan harga, sebenarnya itu bukanlah suatu keuntungan. Karena dibalik itu semua, banyak yang perusahaan korbankan. Seperti memangkas gaji karyawan maupun biaya pemeliharaan.

 

  1. Cara mengatasi persaingan

Persaingan, ketika digunakan dengan tepat, dapat menjadi sumber motivasi yang baik.Beberapa hal yang dapat mengubah bentuk persaingan yang negatif adalah dengan kepemilikan karyawan dan hierarki datar.

Dengan kepemilikan karyawan, setiap anggota akan berhak untuk persen saham tertentu dalam perusahaan. Itu memungkinkan mereka memiliki tujuan yang sama dengan visi misi perusahaan, yaitu menghasilkan keuntungan.

Hierarki datar, juga memungkinkan karyawan lebih nyaman dalam bekerja. Tidak ada superior dan inferior. Mereka tidak dikendalikan oleh manager dan tidak harus bekerja ketat di bawah pengawasan orang lain. Mereka hanya perlu meyakinkan orang lain dalam perusahaan untuk bekerja bersama dan terjadi kolaborasi.

Untuk bidang pendidikan, Finlandia menjadi contoh yang baik untuk model tanpa persaingan. Mereka tidak menggunakan nilai atau tes standar. Nilai siswa murni berdasarkan kemajuan siswa tersebut, tanpa dibandingkan dengan siswa lainnya. Akibatnya mereka bisa kalah dalam persaingan global. Namun, mereka mendapatkan skor tertinggi untuk skolastik internasional.

Jadi, sedikit rasa persaingan memang menyenangkan. Namun, lebih baik jika kita mengembangkan budaya kolaborasi dalam kehidupan.

 

Kesimpulan :

Persaingan yang berlebihan dapat menghambat kemajuan kita.

Apa yang harus dilakukan?

Luangkan waktu untuk mensyukuri apa yang sudah kita miliki, sehingga rasa syukur lebih tinggi dibanding ketidakpuasan dan rasa ingin terus menjadi pemenang.

BERGABUNG BERSAMA KAMI
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Bergabunglah dengan lebih dari 3.000 orang yang telah menerima email rutin dari kami, dan pelajari cara menulis kreatif di sosial media, artikel blog dan buku. Siapa tahu ini bisa menjadi sumber penghasilan sampingan bahkan utama Anda !
Email Anda aman bersama kami

Leave a Comment